Kamis, 27 Desember 2012

Banyak Kata

Lama tak mengenangmu, seindah waktu untuk hidupmu, aku tak berniat lupa.
Masih terasa jelas, ada gerlingan-gerlingan air mata saat aku ingat tawa terakhirmu bersamaku.
Waktu singkat untuk melihatmu tersenyum meski terjebak ketidakberdayaanmu.

Lalu ku tulis sebuah tulisan lain untukmu, untuk engkau calon bidadari surga dengan kebaikan dan keindahanmu.
Bukan tentang kenangan, tapi tentang sebuah mimpi dan angan untuk waktu yang sudah berlalu ini.
Ini bukan tentang keindahanmu, tapi bagaimana aku ingin bercerita tentang semua warna dan kelam yang sudah terlampaui. Dariku, untukku, untukmu, dan untuk mereka.

Banyak Kata,
Banyak kata yang harus kurangkai untuk menjadi kalimat padu untuk memperdengarkan cerita-cerita ini padamu, pada dunia yang tak buta untuk membaca.
Meski tak melihat namun mau merasakan. Bukan untuk mereka yang melihat namun seolah terpejam.
Ini tentang keadaan dimana tangis dan kejujuran anak-anak yang engkau hargai itu tak lagi didengarkan.
Saat seorang anak diposisikan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan dunia yang semakin lama terkikis nafsu manusia.
Saat tawa anak-anak menjadi tangis di pinggir-pinggir dan lorong-lorong kelam jalanan.
Nyanyian-nyanyian sumbang diringi tawa yang hambar. Itu di Negeriku, Negerimu, Negeri Kita dimana kekayaan alam berlimpah namun kesejahteraan masyarakat selalu goyah dan termakan keinginan "tanpa repot" untuk mereka yang mebiarkan setan mengangkang di hadapannya.

(belumselesai)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar