Hai saudariku, apa kabar lagi hari ini? Damaikah kau di sana? Maaf sempat menjadikanmu bahan perdebatanku. Maaf, kau memaafkanku kan kakak perempuanku? Aku menyayangimu seperti biasanya. Seperti saudara yang biasa kau ajak untuk berdebat dan kau kerjai.
Ini sudah berhari-hari kan? Maaf aku lupa mendoakanmu beberapa hari ini. Aku terlalu sibuk dengan hatiku. Seperti biasa aku tak punya tempat bercerita. Kau tahulah, jelas kau mengetaui karena tidak ada yang tak mungkin tidak kau ketahui saat ini. Semoga damai selalu menjadi teman baikmu di sana.
Senang sempat memiliki saudari sepertimu. Walau aku tak bercerita, setidaknya kita bisa bermain dan bercanda. Lucu memang saat mengingat kau begitu kasarnya terhadapku. Namun demikian, terima kasih sudah menjadi sorang kakak yang bagiku. Terima Kasih. Aku sangat menghargai waktu yang meski tak banyak bersamamu.
Apa Kabar mu hari ini kakakku sayang? Maaf tidak sempat berbincang dengan mu seperti biasa. Haha, pahamlah, aku sedang agak goyah di sini. Di bagian hati seperti biasa. Kau tahulah. Aku menyayangimu. Apa kabarmu? Semoga kau damai ya Kak. Aku berdoa ketenangan selalu bersamamu.
My Cousin
Saat Kehilangan Membuatnya Menjadi Sangat Berarti.
Jumat, 20 September 2013
Kamis, 22 Agustus 2013
Maaf Aku Tak Datang
Apa kabar calon bidadari? Lama ya tak menyapamu. Maaf tak sempat ke Rumah terakhirmu karena aku mungkin takut bertemu dengan kenangan terakhir darimu. Maaf, kau tau lah alasanku. Aku ingin bercerita lagi denganmu, seperti hari-hari dulu. Seperti kemarin-kemarin saat aku hany bisa jujur dan terbuka hanya bersamamu. Namun aku sadar, kau pasti telah tahu lebih banyak daripada apa yang akan kusampaikan di sini.
Damaikah kau di sana calon bidadari? Semoga kebaikan selalu menjadi sahabat baikmu di alam sana. Ku doakan semoga tak akan ada Cinta yang putus untuk menjagamu dalam kehangatan Doa-doa.
Banyak sekali cerita beberapa tahun ini yang mungkin tak bisa aku ungkapkan di sini. Namun aku percaya kau tahu lebih banyak bukan? Beberapa waktu ini pun seharusnya kau dapat melihat bahwa aku bukan aku yang nampak seperti kemarin saat kau masih bisa memukul kepalaku. Aku berbeda. Aku semakin banyak belajar, semakin banyak melakukan kesalahan, dan semakin sering pula untuk tak tahu cara menyampaikan apa yang seharusnya bisa aku sampaikan. Andai kau masih di sini, mungkin segala hal bisa sedikit lebih mudah. Semoga kau damai di sana.
Ini sudah tahun ke 2 kan? Maaf aku tak sempat mengantarkan bunga dan doa ke depan rumah terakhirmu. Maaf ya aku tak bisa menjadi sangat baik terhadapmu. Tapi semoga kau sangat baik dan lebih indah di sana.
Aku ingin menuliskan kata-kata ini di pintu rumahmu, namun ku tulis di sini sajalah. Semoga kau membacanya, meski ku tahu tak mungkin kau mengakses ke benda-benda seperti ini lagi.
Kau yang cantik setelah keindahanmu bertambah
Masih ingatkah kau akan kenangan kita
Aku masih, semua hal tentang kita memang terasa baik-baik saja nampaknya
Hanya batas waktu kita berbeda, kau diberikan keindahan
Aku masih harus banyak belajar tentang berbagai kesalahan
Andai saja kau masih di sini, mungkin aku akan memintamu menjagaku
Kau tahu, kau tetap seorang saudari bagiku, meski aku lupa dimana rumahmu seharusnya
Sudah lama aku tak berjabat tangan denganmu
Tangan kurus dan rampingmu, masih ingin ku remas sampai kau merintih
seperti kemarin, seperti waktu kita masih bermain bersama
Aku merindukanmu karena banyak cerita yang ingin ku bagi bersamamu
Apa kau bersayap kali ini?
Kalo iya, pasti sangat indah, putih, dan sangat lebar
Lalu kau akan terbang di atas kepalaku, berteriak dan memamerkannya kepadaku
Seandainya kau di sini denganku, aku akan membagikan dunia padamu
Saudariku, tenanglah di sana. Semoga Tuhan kita selalu menjagamu dalam kasih sayang-Nya
Damaikah kau di sana calon bidadari? Semoga kebaikan selalu menjadi sahabat baikmu di alam sana. Ku doakan semoga tak akan ada Cinta yang putus untuk menjagamu dalam kehangatan Doa-doa.
Banyak sekali cerita beberapa tahun ini yang mungkin tak bisa aku ungkapkan di sini. Namun aku percaya kau tahu lebih banyak bukan? Beberapa waktu ini pun seharusnya kau dapat melihat bahwa aku bukan aku yang nampak seperti kemarin saat kau masih bisa memukul kepalaku. Aku berbeda. Aku semakin banyak belajar, semakin banyak melakukan kesalahan, dan semakin sering pula untuk tak tahu cara menyampaikan apa yang seharusnya bisa aku sampaikan. Andai kau masih di sini, mungkin segala hal bisa sedikit lebih mudah. Semoga kau damai di sana.
Ini sudah tahun ke 2 kan? Maaf aku tak sempat mengantarkan bunga dan doa ke depan rumah terakhirmu. Maaf ya aku tak bisa menjadi sangat baik terhadapmu. Tapi semoga kau sangat baik dan lebih indah di sana.
Aku ingin menuliskan kata-kata ini di pintu rumahmu, namun ku tulis di sini sajalah. Semoga kau membacanya, meski ku tahu tak mungkin kau mengakses ke benda-benda seperti ini lagi.
Kau yang cantik setelah keindahanmu bertambah
Masih ingatkah kau akan kenangan kita
Aku masih, semua hal tentang kita memang terasa baik-baik saja nampaknya
Hanya batas waktu kita berbeda, kau diberikan keindahan
Aku masih harus banyak belajar tentang berbagai kesalahan
Andai saja kau masih di sini, mungkin aku akan memintamu menjagaku
Kau tahu, kau tetap seorang saudari bagiku, meski aku lupa dimana rumahmu seharusnya
Sudah lama aku tak berjabat tangan denganmu
Tangan kurus dan rampingmu, masih ingin ku remas sampai kau merintih
seperti kemarin, seperti waktu kita masih bermain bersama
Aku merindukanmu karena banyak cerita yang ingin ku bagi bersamamu
Apa kau bersayap kali ini?
Kalo iya, pasti sangat indah, putih, dan sangat lebar
Lalu kau akan terbang di atas kepalaku, berteriak dan memamerkannya kepadaku
Seandainya kau di sini denganku, aku akan membagikan dunia padamu
Saudariku, tenanglah di sana. Semoga Tuhan kita selalu menjagamu dalam kasih sayang-Nya
Kamis, 27 Desember 2012
Banyak Kata
Lama tak mengenangmu, seindah waktu untuk hidupmu, aku tak berniat lupa.
Masih terasa jelas, ada gerlingan-gerlingan air mata saat aku ingat tawa terakhirmu bersamaku.
Waktu singkat untuk melihatmu tersenyum meski terjebak ketidakberdayaanmu.
Lalu ku tulis sebuah tulisan lain untukmu, untuk engkau calon bidadari surga dengan kebaikan dan keindahanmu.
Bukan tentang kenangan, tapi tentang sebuah mimpi dan angan untuk waktu yang sudah berlalu ini.
Ini bukan tentang keindahanmu, tapi bagaimana aku ingin bercerita tentang semua warna dan kelam yang sudah terlampaui. Dariku, untukku, untukmu, dan untuk mereka.
Banyak Kata,
Banyak kata yang harus kurangkai untuk menjadi kalimat padu untuk memperdengarkan cerita-cerita ini padamu, pada dunia yang tak buta untuk membaca.
Meski tak melihat namun mau merasakan. Bukan untuk mereka yang melihat namun seolah terpejam.
Ini tentang keadaan dimana tangis dan kejujuran anak-anak yang engkau hargai itu tak lagi didengarkan.
Saat seorang anak diposisikan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan dunia yang semakin lama terkikis nafsu manusia.
Saat tawa anak-anak menjadi tangis di pinggir-pinggir dan lorong-lorong kelam jalanan.
Nyanyian-nyanyian sumbang diringi tawa yang hambar. Itu di Negeriku, Negerimu, Negeri Kita dimana kekayaan alam berlimpah namun kesejahteraan masyarakat selalu goyah dan termakan keinginan "tanpa repot" untuk mereka yang mebiarkan setan mengangkang di hadapannya.
(belumselesai)
Masih terasa jelas, ada gerlingan-gerlingan air mata saat aku ingat tawa terakhirmu bersamaku.
Waktu singkat untuk melihatmu tersenyum meski terjebak ketidakberdayaanmu.
Lalu ku tulis sebuah tulisan lain untukmu, untuk engkau calon bidadari surga dengan kebaikan dan keindahanmu.
Bukan tentang kenangan, tapi tentang sebuah mimpi dan angan untuk waktu yang sudah berlalu ini.
Ini bukan tentang keindahanmu, tapi bagaimana aku ingin bercerita tentang semua warna dan kelam yang sudah terlampaui. Dariku, untukku, untukmu, dan untuk mereka.
Banyak Kata,
Banyak kata yang harus kurangkai untuk menjadi kalimat padu untuk memperdengarkan cerita-cerita ini padamu, pada dunia yang tak buta untuk membaca.
Meski tak melihat namun mau merasakan. Bukan untuk mereka yang melihat namun seolah terpejam.
Ini tentang keadaan dimana tangis dan kejujuran anak-anak yang engkau hargai itu tak lagi didengarkan.
Saat seorang anak diposisikan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan dunia yang semakin lama terkikis nafsu manusia.
Saat tawa anak-anak menjadi tangis di pinggir-pinggir dan lorong-lorong kelam jalanan.
Nyanyian-nyanyian sumbang diringi tawa yang hambar. Itu di Negeriku, Negerimu, Negeri Kita dimana kekayaan alam berlimpah namun kesejahteraan masyarakat selalu goyah dan termakan keinginan "tanpa repot" untuk mereka yang mebiarkan setan mengangkang di hadapannya.
(belumselesai)
Sabtu, 02 Juni 2012
Karena Cinta, Kau Nyata
Lihat, lihat aku yang sudah jauh berada didepan sekarang
Betapa tegak aku sudah melangkah,
Sejauh apa jalan yang telah lama aku ikuti
Percaya kah kau, aku percaya
Kau bersama ku dalam kata yang tidak terucap
Terdengar tanpa suara dan nyata tanpa terlihat
Karena Cinta, Kau tergambar indah di hati ini saja.
JJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJ
Ada banyak bentuk rupa yang kukenali
Tak pelak menghapus bentuk rupamu
Kau masih tersenyum di sini
Dikelopak mataku yang tertutup
Kau tergambar dengan jelas dan indah
Ada senyuman yang lama tak muncul, namun kekal
Dalam bentuk yang sama
Karena cinta membuatnya indah
JJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJ
Sayup-sayup lukisan kenangan tertulis
Nyata dan indah
Bagai tersambung dengan lem besi yang kuat
Tak lepas mudah dari hati dan pikran
Dengan senyum yang dibagi bersama-sama tadi
Aku telah lama mengenalmu meski hanya beberapa tahun
Bersama dengan waktu yang memisahkan kita dipenghujung
waktumu
Sekarang aku tegar sendiri tanpa berbagi denganmu
Sayang, Maaf telah lama merepotkanmu
Kau saudari terhebat untukku
Karena Cinta Kita bisa segalanya
JJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJ
Ada sedih di raut wajah saat mengingat ketiadaanmu
Meski aku terkadang berpikir kau di sini
Tetap saja tawa mu masih ingin kudengar
Aku masih mengarungi petualangan cintaku
Namun tanpamu yang mendengarku seperti dulu
Kau bahagia di sana saat aku mencari jalan bahagiaku di
sini
Di dunia yang telah lama kau tinggali
Menjelang 360 hari kepergian mu
Sayang, damailah di sana
Disni kau selalu kurasakan bersamaku
Karena Cinta, Kau itu Nyata
Minggu, 22 April 2012
Surat 3 : Kau Mendengar, tak terdengar berbicara
Hei,
kamu yang di sana. Aku tak akan mempertanyakan kabarmu. Aku paham bahwa kau
akan lebih cantik di sana. Bukan, bukan cantik mungkin, kau pasti Indah jika
itu penilaian yang lebih baik daripada cantik. Aku bisa membayangkan senyummu
seperti kemarin-kemarin sekarang, meski aku ketahui bahwa senyummu akan sangat
mempesona sekarang. Semoga Tuhan kita selalu menyayangimu sayang.
Apakah
kau berada di sebelahku saat aku mulai menulis surat ini? Meski iya, aku tak
nampak bisa untuk dapat melihatmu. Hanya setiap aku akan menulis untuk sesuatu
yang akan aku sampaikan padamu, ada kehangatan di dadaku dan sekitar hatiku.
Mungkin kau kini tengah merangkul dan mencubitku meski aku tak merasakan. Oke,
sejujurnya bukan aku tak merasakan sebenarnya, aku benar-benar tak tahu. Semoga
Tuhan kita selalu menyayangimu sayang.
Aku
yakin kau apat melihat saat aku menulis seperti ini dan kamu akan paham bukan?
Kamu akan paham kenapa aku menulis bukan? Aku percaya akan hal itu. Yah, aku
sangat-sangat percaya. Kau tahu bukan apa yang sedang aku rasakan? Yah, aku
masih tak punya teman bercerita sehebat kamu. Pada akhirnya, aku hanya menulis
sebuah surat yang tak terkirim lagi untukmu. Semoga Tuhan kita selalu
menyayangimu sayang.
Kau
dapat mendengar bagaimana aku tadi meledak-ledak sementara waktuku tadi bukan? Yah,
ada yang salah dan tak bisa aku utarakan. Sesungguhnya aku tau kau mendengar
dan kau mengerti. Kamu jelas akan mengerti karena kurasa kau melihat dengan
jelas. Itu menurutku dan jelas hanya menurutku. Semoga Tuhan kita selalu
menyayangimu sayang.
Aku
masih belum merasa adil untuk waktu singkat bersamamu. Aku masih tak dapat
menerima bahwa waktuku lebih singkat dari orang-orang yang terlebihdahulu mengenalmu.
Aku sangat membutuhkanmu saat ini.
.........
Sempat
ada jedah untuk shalatku tadi, aku merasa lebih baik. Setidaknya aku tak
memaksakan untuk keberadaanmu lagi sekarang. Aku dapat lebih menerima untuk
mengikhlaskanmu kembali. Maaf sempat mengaharapkanmu muncul disampingku tadi. Semoga
Tuhan kita selalu menyayangimu sayang.
Kau
sudah kenal siapa aku bukan, meski dalam waktu yang singkat untuk kita? Kau mengetahuiku
kan? Setidaknya kau tahu aku sangat terbuka terhadapmu daripada orang lain
disekelilingmu. Semoga Tuhan kita selalu menyayangimu sayang.
Setidaknya
menulis untukmu membuat aku merasa lebih baik. Entah kenapa, aku merasa nyaman.
Terima kasih Tuhan untuk sebuah karunia orang sepertinya yang bisa membuatku
merasa lebih baik saat akan bercerita terhadapnya, meski ia tak lagi ada untuk
dapat aku sentuh dan aku godai. Terima kasih Tuhan untuk kebesaran hati seperti
ini. Terima Kasih Tuhan, setidaknya aku percaya kau memberikan semua hal
terbaik untuknya di sana.
KuPercaya
Sayang, kau selalu memperhatikanku. Kau mendengarku, meski kau tak lagi
terdengar berbicara. Istirahatlah dengan tenang. Demikianlah suratku hari ini
untuku. Maaf, jikalau aku sempat mebuatmu khawatir saat ini. Semoga Tuhan kita
selalu menyayangimu di sana sepupuku sayang.
Salam
Hangat dengan Doa Untuk Ketenanganmu.
Sepupumu
OP’
Olfi
Prasyas
Kamis, 19 April 2012
Surat 2 : Aku Iri, Aku Ingin Melihatmu
Ada
sesuatu yang tidak benar saat setiap hal ini tidak dapat aku utarakan. Kau
lihat kan Bhy, aku tak pelak dapat menghindar dari tiap kejadian yang jelas
disusun sangat rapi oleh tiap jalur dunia yang kulalui. Aku kadang iri padamu,
kau sekarang jelas dapat melihat jalur yang kulalui dan apa yang ada dan tengah
menanti dihadapanku. Kau dapat melihat jelas bukan? Mungkin kau tengah
tersenyum sekarang saat aku sedang menulis surat kedua ini untukmu. Aku percaya,
senyumanmu kini lebih indah dari biasanya aku lihat. Aku jujur, terkadang
sangat-sangat iri padamu.
Ada
hal-hal yang sangat ingin kuceritakan padamu seperti waktu itu, sayangnya kau
tak sedang bisa aku gapai dengan keterbatasanku dan waktu yang belum dapat aku
ketahui kapan berujungnya. Kau lihat kan Bhy, betapa aku sangat ingin berbagi
denganmu seperti yang dulu-dulu? Aku masih sangat merindukanmu.
Sayangnya
tempo waktu kita berbeda, aku tidak bisa lagi walau sekedar untuk mengirim
pesan singkat untukmu dan mebuatmu bisa meledekku seperti kemarin-kemarin. Aku tahu,
kau pasti sekarang sedang tersenyum saat aku tengah menulis surat ini. Sayangnya,
aku tak mampu melihatmu lagi. Maaf, aku harus menulis surat ini meski tak akan
sampai ke tempatmu.
Aku
menyesal atas kepergianmu, aku menyesal tak dapat lagi berbagi denganmu. Aku cemburu
pada waktu yang sangat menyayangimu sehingga kau tak lagi bermain dalam aturan
dunia yang menurutku kini lebih payah dan tak bisa ditebak arah jalur yang
diberikannya. Lihatlah, aku bermain di atas panggungku tanpa berbagi denganmu. Kau
melihatkan betapa payah setiap tulisanku kini untuk ku tulis dilembaran hidupku
yang tak punya teman berbagi seperti denganmu dulu. Aku menulis dengan gaya
bahasaku yang tidak mudah dipahami tapi kadang-kadang kunikmati.
Kau
tahu? Aku masih sangat butuh keceriaan yang tak masuk akal seperti dahulu. Kau tahu,
aku sangat ingin bilang padamu, “Aku Masih 19 Tahun, dan benar aku masih jauh
lebih muda darimu”. Sayangnya, aku tak dapat lagi mendengar tawamu meski kini
kau tengah tertawa disisiku dan tak kusadari. Jujur, aku iri padamu yang begitu
lepas dan bebas kini di sana. Aku merasa ada rasa sakit, aku sakit bila sadar
bahwa kau tak lagi ada di sampingku. Aku iri, dan jujur aku masih ingin dapat
melihatmu.
Senin, 16 April 2012
Chapter 3 : Sampai Jumpa, Aku Berangkat
Ujian Akhir
Nasional, siapa yang tak tahu kegiatan tiap tahun yang dilakukan pada bulan
April. Yah, bagi semua anak kelas XII Sekolah Menengah Atas adalah hal yang
paling menakutkan. Itulah yang saya dan Aang juga Alami saat bulan April 2010.
Ingat, cerita ini adalah cerita antara kami, saya dan Aang, maka mungkin tak
banyak teman-teman yang akan masuk dalam cerita ini. Namun, bukan berarti tak
ada teman-teman yang berpengaruh dalam cerita ini.
Pola pendidikan
Indonesia yang payah juga sangat berpengaruh di sini. Terutama bocoran soal,
sayangnya tak akan saya ceritakan banyak. Ingat, ini soal cerita saya dan Aang
dan untuk itu saya tak akan berbicara banyak tentang payahnya sistem pendidikan
menurut saya. Sesungguhnya karena lucunya sistem, di sini Aang sempat
bermasalah. Ia bermasalah karena diketahui membawa handphone saat ujian
dilaksanakan. Yah, dia bermasalah saat itu. Itu menjadi tranding topic
(andaikan di twitter) di sekolah saya. Untungnya, itu bukanlah hal yang akan
menjadi masalah berlarut-larut setelahnya. Well, Ujian Nasional bisa dilalui
dan selesai dalam satu minggu.
Masalah
Handphone? Masalah itu ya? Well, akhirnya dapat ditutupi, bisa dijadikan
catatan hitam yang disembunyikan sangat rapat. Hanya saja, masih teringat jelas
bagaimana Aang dengan gayanya yang biasa, dengan rawut wajah khawatir yang
seolah dicobanya untuk ditutup-tutupi. Sayangnya dapat terlihat sangat jelas
karena saya mengenalnya cukup baik dan jujur saya puas memarahi dan mebuatnya
berjanji tak akan semberono dan seceroboh waktu itu. Yah, sudah saya katakan
bahwa ujian terlewati dengan baik dan maslah tak lagi menjadi topik utama yang
dibicarakan.
Menjelang
Kelulusan
“Kemana
tujuanmu?” adalah kalimat yang menjadi percakapan anak-anak kelas XII saat
ujian telah selesai dilaksanakan. Pertanyaan yang sama pula terlontar pada saya
dan Aang. Pertanyaan yang sama-sama kami pertanyakan. Malang atau Mataram. Dua
kota yang membuat saya bingung untuk kelanjutan studi saya. Tahukah kamu? Apa
yang dikatakan oleh Aang? Dia dengan polosnya mengatakan bahwa kemana pun saya
akan berangkat maka dia pun akan ikut bersama saya. Begitu pun yang
dikatakan oleh ibu kandungnya.
Sejujurnya, Universitas Brawijaya di kota Malang adalah perguruan tinggi yang
saya jadikan target. Berhubung di sana juga saya memeiliki seorang sepupu
perempuan yang menuntut ilmu di sana pula. Hanya saja, kata-kata dari rata-rata
keluarga besar itu selalu saja enak didengar dan terkesan sangat meyakinkan. Maka Mataram menjadi prioritas saat itu,
menjadi prioritas dikarenakan jarak yang tak sejauh Malang dari Taliwang dan
juga menjadi tempat yang direkomendasikan oleh keluarga. Yah, sempat memutuskan
untuk dapat hidup berbagi di Mataram karena rata-rata teman-teman yang lain
akan menuju ke sana pula.
Siapa yang akan
tahu aku kemana nantinya, lagipula tak ada yang salah dengan namanya berencana.
Begitu pula Aang, dia juga tak melakukan kesalahan karena dia hanya berencana.
Sejujurnya, hasil Ujian yang masih belum jelas membawa dampak negatif untuk ketahanan
mental. “Pikirkan UMPTN”. Itu adalah kata dari guru favorit saya, Bapak Joko.
Oh ya, di cerita-cerita sebelumnya, saya belum menceritakan tentang Bapak Joko.
Beliau adalah guru Biologi saya, khususnya kelas XII jurusan IPA. Beliaulah
yang menyemangati saya agar beban kelulusan tidak mengganggu hari-hari saya dan
kesiapan saya untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Yah, saya lebih cenderung
memfokuskan agar keragu-raguan itu tidak mengganggu hari-hari saya ketimbang
persiapan masuk perguruan tinggi.
Jurusan
di SMA? Aang? Saya juga sebelumnya belum menceritakan tentang Aang itu jurusan
apa ya? Aang mengambil jurusan yang berbeda dengan saya. Dia mengambil Jurusan
IPS. Dari awal jalan kami terkesan berbeda walau sifat kami cenderung sama.
Soal kegalauannya Aang? Saya tak tahu pasti, hanya saja dia memiliki sifat yang
sama seperti saya. Maka bisa dikatakan bahwa ia juga tak membuat hal ini
mengganggu kehidupannya walau di otaknya ada besarnya kekhawatiran seperti yang
saya rasakan. Itulah, kami hanya anak SMA yang sedang menunggu hasil 3 tahun
yang ditentukan oleh 5 hari UAN. Adilkah menurut kalian? Tapi kehidupan kami
benar-benar ditentukan oleh 5 hari yang hasilnya dilaporkan 1 atau 2 bulan
kemudian.
Setelah
Kelulusan
Di sini semua
terjawab, aku lulus. Aang juga lulus. Rata-rata semua teman-teman bahagia
karena kelulusannya. Meski ada 3 atau 4 orang yang tidak dinyatakan lulus saat
itu juga. Sesungguhnya, ketidaklulusan di waktu saya dulu itu bukan menjadi
halangan karena diadakannya yang namanya Ujian Ulang. Well. Semua teman- teman
lulus pada akhirnya.
Tunggu, ini
bukan mengenai kelulusan. Ini cerita saya dan Aang setelah lulus. Yah, siapa
yang mengira bahwa tujuan saya akhirnya adalah kota Malang? Saya sendiri pun
jujur saat itu tidak habis pikir. Sayangnya, kedua orang tua saya juga
menyetujui dan beberapa dari sahabat saya juga menuju ke kota Malang. Aang? Oh ya,
ada yang tidak mengenakan dari ekspresinya saat itu. Jelas saya dapat melihat
sebuah kekecewaan yang disimpannya di balik senyuman yang ia berikan pada saya.
“Aku di Taliwang
saja.” Itu adalah kata-kata Aang yang masih saya ingat. Alasannya? Saya juga
bertanya tenntang alasannya waktu itu. Dia bilang bahwa orang tua asuhnya tak
mengijinkannya tuk pergi jauh. Saya paham betapa ia sangat menghormati kedua
orang tua asuhnya yang sudah mendidiknya dari semenjak ia masih kecil. Well,
garis di wajah saya juga membentuk sebuah pertanda bahwa saya juga kecewa dan
menyelipkan sebuah senyuman yang menunjukkan bahwa saya tahu dia memilih yang
terbaik.
Hari Perpisahan
di sekolah adalah hari yang mungkin dikatakan saya terkahir kali bertemu di
sekolah saya saat itu. Yah, saatnya teman-teman akan berangkat ke tempat tujuannya
masing-masing. Satu per satu kawan-kawan saya pergi menuju tempatnya. Hingga akhirnya
tiba giliran saya, yah saya akhirnya akan berangkat.
“Hati-hati di
sana.” Itu kata-katanya yang saya ingat. Aang memang adalah saudara sepupu yang
seperti saudara perempuan saya sendiri. Bagaimana tidak? Kedekatan kami
solah-olah menunjukkan bahwa kami ini adalah kakak-beradik yang sangat dekat. Yah,
bulan mei tahun 2010 adalah saat keberangkatan saya ke kota Malang bersama Ibu
saya yang mengantarkan. Saya pamit padanya hanya melalui sebuah pesan singkat:
Sampai
Jumpa, Aku berangkat.
Langganan:
Postingan (Atom)