Ada
sesuatu yang tidak benar saat setiap hal ini tidak dapat aku utarakan. Kau
lihat kan Bhy, aku tak pelak dapat menghindar dari tiap kejadian yang jelas
disusun sangat rapi oleh tiap jalur dunia yang kulalui. Aku kadang iri padamu,
kau sekarang jelas dapat melihat jalur yang kulalui dan apa yang ada dan tengah
menanti dihadapanku. Kau dapat melihat jelas bukan? Mungkin kau tengah
tersenyum sekarang saat aku sedang menulis surat kedua ini untukmu. Aku percaya,
senyumanmu kini lebih indah dari biasanya aku lihat. Aku jujur, terkadang
sangat-sangat iri padamu.
Ada
hal-hal yang sangat ingin kuceritakan padamu seperti waktu itu, sayangnya kau
tak sedang bisa aku gapai dengan keterbatasanku dan waktu yang belum dapat aku
ketahui kapan berujungnya. Kau lihat kan Bhy, betapa aku sangat ingin berbagi
denganmu seperti yang dulu-dulu? Aku masih sangat merindukanmu.
Sayangnya
tempo waktu kita berbeda, aku tidak bisa lagi walau sekedar untuk mengirim
pesan singkat untukmu dan mebuatmu bisa meledekku seperti kemarin-kemarin. Aku tahu,
kau pasti sekarang sedang tersenyum saat aku tengah menulis surat ini. Sayangnya,
aku tak mampu melihatmu lagi. Maaf, aku harus menulis surat ini meski tak akan
sampai ke tempatmu.
Aku
menyesal atas kepergianmu, aku menyesal tak dapat lagi berbagi denganmu. Aku cemburu
pada waktu yang sangat menyayangimu sehingga kau tak lagi bermain dalam aturan
dunia yang menurutku kini lebih payah dan tak bisa ditebak arah jalur yang
diberikannya. Lihatlah, aku bermain di atas panggungku tanpa berbagi denganmu. Kau
melihatkan betapa payah setiap tulisanku kini untuk ku tulis dilembaran hidupku
yang tak punya teman berbagi seperti denganmu dulu. Aku menulis dengan gaya
bahasaku yang tidak mudah dipahami tapi kadang-kadang kunikmati.
Kau
tahu? Aku masih sangat butuh keceriaan yang tak masuk akal seperti dahulu. Kau tahu,
aku sangat ingin bilang padamu, “Aku Masih 19 Tahun, dan benar aku masih jauh
lebih muda darimu”. Sayangnya, aku tak dapat lagi mendengar tawamu meski kini
kau tengah tertawa disisiku dan tak kusadari. Jujur, aku iri padamu yang begitu
lepas dan bebas kini di sana. Aku merasa ada rasa sakit, aku sakit bila sadar
bahwa kau tak lagi ada di sampingku. Aku iri, dan jujur aku masih ingin dapat
melihatmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar