Kamis, 19 April 2012

Surat 2 : Aku Iri, Aku Ingin Melihatmu


Ada sesuatu yang tidak benar saat setiap hal ini tidak dapat aku utarakan. Kau lihat kan Bhy, aku tak pelak dapat menghindar dari tiap kejadian yang jelas disusun sangat rapi oleh tiap jalur dunia yang kulalui. Aku kadang iri padamu, kau sekarang jelas dapat melihat jalur yang kulalui dan apa yang ada dan tengah menanti dihadapanku. Kau dapat melihat jelas bukan? Mungkin kau tengah tersenyum sekarang saat aku sedang menulis surat kedua ini untukmu. Aku percaya, senyumanmu kini lebih indah dari biasanya aku lihat. Aku jujur, terkadang sangat-sangat iri padamu.

Ada hal-hal yang sangat ingin kuceritakan padamu seperti waktu itu, sayangnya kau tak sedang bisa aku gapai dengan keterbatasanku dan waktu yang belum dapat aku ketahui kapan berujungnya. Kau lihat kan Bhy, betapa aku sangat ingin berbagi denganmu seperti yang dulu-dulu? Aku masih sangat merindukanmu.

Sayangnya tempo waktu kita berbeda, aku tidak bisa lagi walau sekedar untuk mengirim pesan singkat untukmu dan mebuatmu bisa meledekku seperti kemarin-kemarin. Aku tahu, kau pasti sekarang sedang tersenyum saat aku tengah menulis surat ini. Sayangnya, aku tak mampu melihatmu lagi. Maaf, aku harus menulis surat ini meski tak akan sampai ke tempatmu.

Aku menyesal atas kepergianmu, aku menyesal tak dapat lagi berbagi denganmu. Aku cemburu pada waktu yang sangat menyayangimu sehingga kau tak lagi bermain dalam aturan dunia yang menurutku kini lebih payah dan tak bisa ditebak arah jalur yang diberikannya. Lihatlah, aku bermain di atas panggungku tanpa berbagi denganmu. Kau melihatkan betapa payah setiap tulisanku kini untuk ku tulis dilembaran hidupku yang tak punya teman berbagi seperti denganmu dulu. Aku menulis dengan gaya bahasaku yang tidak mudah dipahami tapi kadang-kadang kunikmati.

Kau tahu? Aku masih sangat butuh keceriaan yang tak masuk akal seperti dahulu. Kau tahu, aku sangat ingin bilang padamu, “Aku Masih 19 Tahun, dan benar aku masih jauh lebih muda darimu”. Sayangnya, aku tak dapat lagi mendengar tawamu meski kini kau tengah tertawa disisiku dan tak kusadari. Jujur, aku iri padamu yang begitu lepas dan bebas kini di sana. Aku merasa ada rasa sakit, aku sakit bila sadar bahwa kau tak lagi ada di sampingku. Aku iri, dan jujur aku masih ingin dapat melihatmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar