Rabu, 11 April 2012

Chapter 1 : Gadis Itu Teman di SMP Ku


Dia adalah gadis yang seumuran dengan saya. Itu saat kelas VII sekolah menengah pertama saya pertama kali mengenalnya. Gadis yang biasa saja dan tidak terdapat hal yang istimewa dari pancaran auranya. Kenalpun harus gara-gara kegiatan pra-orientasi siswa karena saya dan dia adalah teman satu kelas dan perkenalannya terkesan sangat terpaksa.

Naik tingkat ke Kelas VIII kemudian IX. Tiga tahun masa sekolah yang terlewati dan saya hanya tau dia adalah siswi yang sama dengan siswi-siswi lainnya di sekolah itu. Yah, SMP Negeri 1 Taliwang tempat saya menjajaki ilmu pada masa-masa transisi anak-anak untuk menjadi remaja. Seperti masa-masa labil pada umumnya, setiap hal berlalu dan menjadi sesuatu yang lucu apabila diingat kembali sekarang. Tunggu, ini semua seharusnya tentang dia, bukan cerita saya.

Sebelumnya saya perkenalkan nama saya, Nama saya Olfi Prasyas dan sekarang berusia menjelang 20 tahun saat kisah ini saya tuliskan. Gadis itu? Oh ya, gadis yang saya ceritakan itu ternyata punya ikatan yang kuat dengan saya. Namanya adalah Sadia Febby Anggraini. Umurnya sekarang juga 20 tahun. Setahu saya sekarang, dia adalah gadis manis yang menyenangkan setelah saya ketahui siapa dia. Ngomong-ngomong, Cukup untuk perkenalan, saatnya saya bercerita.
******

Seorang Sepupu lagi?


Simpang siur mengenai seorang sepupu perempuan yang sebelumnya tidak pernah terdengar. Anehnya, saya tidak mengenalnya padahal saya begitu dekat dengan keluarga dari Ibu saya tercinta. Siapa dia? Tentunya saya yang masih berumur 13 menjelang 14 tahun (kelas VII) saat itu jelas bertanya-tanya tentang keberadaannya. Jelas sekali saya berniat ingin tahu siapa dia. Hanya saja, itu hanya keinginan sesaat dan saya melupakan keinginan saya itu keesokan harinya. Namanya juga anak-anak.


Hanya saja, itu ternyata tak berujung walau saya sudah sempat melupakannya. Kegiatan “pramuka” lah yang membuka jawaban. Siapa sangka, pertanyaan yang saya lupakan terjawab di sini. Saat saya duduk di kelas VIII dan mengikuti kegiatan ekstra ini, saya mendapat jawaban dari pembina pramuka saya yang saya hormati, Kang Dadang. Ternyata beliau lah yang memberitahukan bahwa di sekolah ini pula sepupu saya yang tidak saya ketahui identitasnya itu bersekolah. Aang namanya.


Aneh dan bingung tapi Kang Dadang menceritakan ke saya bahwa sepupu saya itu adalah anak dari adik ibu saya yang ternyata diangkat menjadi anak oleh keluarga lain. Jelas alasannya bagaimana kenyataannya saya tidak mengenalinya. Siapa yang menduga bahwa dari situ lah saya akhirnya tahu.
******

Sepupu saya Aang


Aang? Siapa dia? Menjadi permasalahan selanjutnya yang akhirnya harus saya cari tahu sendiri. Yah, seorang bocah ingusan berusia 15 tahun dan dengan rasa ingin tahu tentang sebuah hubungan keluarga yang tak terekspos sebelumnya. Namanya juga bocah, terkadang melupakan menjadi sebuah hal yang tak dapat dihindari keberadaannya.


Setelah beberapa hari dan dengan tidak sengaja lagi, akhirnya Febby saya temukan. Jelas, tanpa niat dan rasa ingin tahu sebelumnya. Hanya karena ketidaksengajaan yang sama kembali semua hal berulang. Di sekolah bukan Aang nama panggilannya, melainkan Febby. Siapa yang mengira bahwa dia adalah teman sekelas saya saat masih di kelas VII?


Akhirnya semua terjawab. Hanya karena ketidaksengajaan yang terjadi lagi dan semuanya jelas. Siapa yang mengira juga bahwa dia sudah mengetahui bahwa saya adalah sepupunya semenjak pertama kali bertemu, namun saya tidak tahu apa-apa. Akhirnya, saya mulai terbiasa dengan keberadaannya dan tak canggung lagi untuk mebawa namanya dalam pembicaraan saya. Saya memanggilnya Aang meski orang lain memanggilnya Febby. Itu cara saya membedakan diri saya dengan teman-teman yang ada disekitarnya. Selebihnya, sifat dan tingkah laku yang dia tunjukkan bisa seirama dengan saya. Kenyataannya, sebuah ikatan memang penuh dengan hal-hal aneh yang membuat saya sekarang berpikir lebih keras untuk memahaminya. Well, pada akhirnya siapa yang mengira bahwa Gadis itu adalah seorang teman Di Sekolah saya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar