Kamis, 27 Desember 2012

Banyak Kata

Lama tak mengenangmu, seindah waktu untuk hidupmu, aku tak berniat lupa.
Masih terasa jelas, ada gerlingan-gerlingan air mata saat aku ingat tawa terakhirmu bersamaku.
Waktu singkat untuk melihatmu tersenyum meski terjebak ketidakberdayaanmu.

Lalu ku tulis sebuah tulisan lain untukmu, untuk engkau calon bidadari surga dengan kebaikan dan keindahanmu.
Bukan tentang kenangan, tapi tentang sebuah mimpi dan angan untuk waktu yang sudah berlalu ini.
Ini bukan tentang keindahanmu, tapi bagaimana aku ingin bercerita tentang semua warna dan kelam yang sudah terlampaui. Dariku, untukku, untukmu, dan untuk mereka.

Banyak Kata,
Banyak kata yang harus kurangkai untuk menjadi kalimat padu untuk memperdengarkan cerita-cerita ini padamu, pada dunia yang tak buta untuk membaca.
Meski tak melihat namun mau merasakan. Bukan untuk mereka yang melihat namun seolah terpejam.
Ini tentang keadaan dimana tangis dan kejujuran anak-anak yang engkau hargai itu tak lagi didengarkan.
Saat seorang anak diposisikan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan dunia yang semakin lama terkikis nafsu manusia.
Saat tawa anak-anak menjadi tangis di pinggir-pinggir dan lorong-lorong kelam jalanan.
Nyanyian-nyanyian sumbang diringi tawa yang hambar. Itu di Negeriku, Negerimu, Negeri Kita dimana kekayaan alam berlimpah namun kesejahteraan masyarakat selalu goyah dan termakan keinginan "tanpa repot" untuk mereka yang mebiarkan setan mengangkang di hadapannya.

(belumselesai)

Sabtu, 02 Juni 2012

Karena Cinta, Kau Nyata


Lihat, lihat aku yang sudah jauh berada didepan sekarang
Betapa tegak aku sudah melangkah,
Sejauh apa jalan yang telah lama aku ikuti
Percaya kah kau, aku percaya
Kau bersama ku dalam kata yang tidak terucap
Terdengar tanpa suara dan nyata tanpa terlihat
Karena Cinta, Kau tergambar indah di hati ini saja.

JJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJ


Ada banyak bentuk rupa yang kukenali
Tak pelak menghapus bentuk rupamu
Kau masih tersenyum di sini
Dikelopak mataku yang tertutup
Kau tergambar dengan jelas dan indah
Ada senyuman yang lama tak muncul, namun kekal
Dalam bentuk yang sama
Karena cinta membuatnya indah


JJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJ

Sayup-sayup lukisan kenangan tertulis
Nyata dan indah
Bagai tersambung dengan lem besi yang kuat
Tak lepas mudah dari hati dan pikran
Dengan senyum yang dibagi bersama-sama tadi
Aku telah lama mengenalmu meski hanya beberapa tahun
Bersama dengan waktu yang memisahkan kita dipenghujung waktumu
Sekarang aku tegar sendiri tanpa berbagi denganmu
Sayang, Maaf telah lama merepotkanmu
Kau saudari terhebat untukku
Karena Cinta Kita bisa segalanya

JJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJ

Ada sedih di raut wajah saat mengingat ketiadaanmu
Meski aku terkadang berpikir kau di sini
Tetap saja tawa mu masih ingin kudengar
Aku masih mengarungi petualangan cintaku
Namun tanpamu yang mendengarku seperti dulu
Kau bahagia di sana saat aku mencari jalan bahagiaku di sini
Di dunia yang telah lama kau tinggali
Menjelang 360 hari kepergian mu
Sayang, damailah di sana
Disni kau selalu kurasakan bersamaku
Karena Cinta, Kau itu Nyata

Minggu, 22 April 2012

Surat 3 : Kau Mendengar, tak terdengar berbicara


 Hei, kamu yang di sana. Aku tak akan mempertanyakan kabarmu. Aku paham bahwa kau akan lebih cantik di sana. Bukan, bukan cantik mungkin, kau pasti Indah jika itu penilaian yang lebih baik daripada cantik. Aku bisa membayangkan senyummu seperti kemarin-kemarin sekarang, meski aku ketahui bahwa senyummu akan sangat mempesona sekarang. Semoga Tuhan kita selalu menyayangimu sayang.

Apakah kau berada di sebelahku saat aku mulai menulis surat ini? Meski iya, aku tak nampak bisa untuk dapat melihatmu. Hanya setiap aku akan menulis untuk sesuatu yang akan aku sampaikan padamu, ada kehangatan di dadaku dan sekitar hatiku. Mungkin kau kini tengah merangkul dan mencubitku meski aku tak merasakan. Oke, sejujurnya bukan aku tak merasakan sebenarnya, aku benar-benar tak tahu. Semoga Tuhan kita selalu menyayangimu sayang.

Aku yakin kau apat melihat saat aku menulis seperti ini dan kamu akan paham bukan? Kamu akan paham kenapa aku menulis bukan? Aku percaya akan hal itu. Yah, aku sangat-sangat percaya. Kau tahu bukan apa yang sedang aku rasakan? Yah, aku masih tak punya teman bercerita sehebat kamu. Pada akhirnya, aku hanya menulis sebuah surat yang tak terkirim lagi untukmu. Semoga Tuhan kita selalu menyayangimu sayang.

Kau dapat mendengar bagaimana aku tadi meledak-ledak sementara waktuku tadi bukan? Yah, ada yang salah dan tak bisa aku utarakan. Sesungguhnya aku tau kau mendengar dan kau mengerti. Kamu jelas akan mengerti karena kurasa kau melihat dengan jelas. Itu menurutku dan jelas hanya menurutku. Semoga Tuhan kita selalu menyayangimu sayang.

Aku masih belum merasa adil untuk waktu singkat bersamamu. Aku masih tak dapat menerima bahwa waktuku lebih singkat dari orang-orang yang terlebihdahulu mengenalmu. Aku sangat membutuhkanmu saat ini.

.........
Sempat ada jedah untuk shalatku tadi, aku merasa lebih baik. Setidaknya aku tak memaksakan untuk keberadaanmu lagi sekarang. Aku dapat lebih menerima untuk mengikhlaskanmu kembali. Maaf sempat mengaharapkanmu muncul disampingku tadi. Semoga Tuhan kita selalu menyayangimu sayang.

Kau sudah kenal siapa aku bukan, meski dalam waktu yang singkat untuk kita? Kau mengetahuiku kan? Setidaknya kau tahu aku sangat terbuka terhadapmu daripada orang lain disekelilingmu. Semoga Tuhan kita selalu menyayangimu sayang.

Setidaknya menulis untukmu membuat aku merasa lebih baik. Entah kenapa, aku merasa nyaman. Terima kasih Tuhan untuk sebuah karunia orang sepertinya yang bisa membuatku merasa lebih baik saat akan bercerita terhadapnya, meski ia tak lagi ada untuk dapat aku sentuh dan aku godai. Terima kasih Tuhan untuk kebesaran hati seperti ini. Terima Kasih Tuhan, setidaknya aku percaya kau memberikan semua hal terbaik untuknya di sana.

KuPercaya Sayang, kau selalu memperhatikanku. Kau mendengarku, meski kau tak lagi terdengar berbicara. Istirahatlah dengan tenang. Demikianlah suratku hari ini untuku. Maaf, jikalau aku sempat mebuatmu khawatir saat ini. Semoga Tuhan kita selalu menyayangimu di sana sepupuku sayang.

Salam Hangat dengan Doa Untuk Ketenanganmu.
Sepupumu
OP’
Olfi Prasyas

Kamis, 19 April 2012

Surat 2 : Aku Iri, Aku Ingin Melihatmu


Ada sesuatu yang tidak benar saat setiap hal ini tidak dapat aku utarakan. Kau lihat kan Bhy, aku tak pelak dapat menghindar dari tiap kejadian yang jelas disusun sangat rapi oleh tiap jalur dunia yang kulalui. Aku kadang iri padamu, kau sekarang jelas dapat melihat jalur yang kulalui dan apa yang ada dan tengah menanti dihadapanku. Kau dapat melihat jelas bukan? Mungkin kau tengah tersenyum sekarang saat aku sedang menulis surat kedua ini untukmu. Aku percaya, senyumanmu kini lebih indah dari biasanya aku lihat. Aku jujur, terkadang sangat-sangat iri padamu.

Ada hal-hal yang sangat ingin kuceritakan padamu seperti waktu itu, sayangnya kau tak sedang bisa aku gapai dengan keterbatasanku dan waktu yang belum dapat aku ketahui kapan berujungnya. Kau lihat kan Bhy, betapa aku sangat ingin berbagi denganmu seperti yang dulu-dulu? Aku masih sangat merindukanmu.

Sayangnya tempo waktu kita berbeda, aku tidak bisa lagi walau sekedar untuk mengirim pesan singkat untukmu dan mebuatmu bisa meledekku seperti kemarin-kemarin. Aku tahu, kau pasti sekarang sedang tersenyum saat aku tengah menulis surat ini. Sayangnya, aku tak mampu melihatmu lagi. Maaf, aku harus menulis surat ini meski tak akan sampai ke tempatmu.

Aku menyesal atas kepergianmu, aku menyesal tak dapat lagi berbagi denganmu. Aku cemburu pada waktu yang sangat menyayangimu sehingga kau tak lagi bermain dalam aturan dunia yang menurutku kini lebih payah dan tak bisa ditebak arah jalur yang diberikannya. Lihatlah, aku bermain di atas panggungku tanpa berbagi denganmu. Kau melihatkan betapa payah setiap tulisanku kini untuk ku tulis dilembaran hidupku yang tak punya teman berbagi seperti denganmu dulu. Aku menulis dengan gaya bahasaku yang tidak mudah dipahami tapi kadang-kadang kunikmati.

Kau tahu? Aku masih sangat butuh keceriaan yang tak masuk akal seperti dahulu. Kau tahu, aku sangat ingin bilang padamu, “Aku Masih 19 Tahun, dan benar aku masih jauh lebih muda darimu”. Sayangnya, aku tak dapat lagi mendengar tawamu meski kini kau tengah tertawa disisiku dan tak kusadari. Jujur, aku iri padamu yang begitu lepas dan bebas kini di sana. Aku merasa ada rasa sakit, aku sakit bila sadar bahwa kau tak lagi ada di sampingku. Aku iri, dan jujur aku masih ingin dapat melihatmu.

Senin, 16 April 2012

Chapter 3 : Sampai Jumpa, Aku Berangkat


Ujian Akhir Nasional, siapa yang tak tahu kegiatan tiap tahun yang dilakukan pada bulan April. Yah, bagi semua anak kelas XII Sekolah Menengah Atas adalah hal yang paling menakutkan. Itulah yang saya dan Aang juga Alami saat bulan April 2010. Ingat, cerita ini adalah cerita antara kami, saya dan Aang, maka mungkin tak banyak teman-teman yang akan masuk dalam cerita ini. Namun, bukan berarti tak ada teman-teman yang berpengaruh dalam cerita ini.

Pola pendidikan Indonesia yang payah juga sangat berpengaruh di sini. Terutama bocoran soal, sayangnya tak akan saya ceritakan banyak. Ingat, ini soal cerita saya dan Aang dan untuk itu saya tak akan berbicara banyak tentang payahnya sistem pendidikan menurut saya. Sesungguhnya karena lucunya sistem, di sini Aang sempat bermasalah. Ia bermasalah karena diketahui membawa handphone saat ujian dilaksanakan. Yah, dia bermasalah saat itu. Itu menjadi tranding topic (andaikan di twitter) di sekolah saya. Untungnya, itu bukanlah hal yang akan menjadi masalah berlarut-larut setelahnya. Well, Ujian Nasional bisa dilalui dan selesai dalam satu minggu.

Masalah Handphone? Masalah itu ya? Well, akhirnya dapat ditutupi, bisa dijadikan catatan hitam yang disembunyikan sangat rapat. Hanya saja, masih teringat jelas bagaimana Aang dengan gayanya yang biasa, dengan rawut wajah khawatir yang seolah dicobanya untuk ditutup-tutupi. Sayangnya dapat terlihat sangat jelas karena saya mengenalnya cukup baik dan jujur saya puas memarahi dan mebuatnya berjanji tak akan semberono dan seceroboh waktu itu. Yah, sudah saya katakan bahwa ujian terlewati dengan baik dan maslah tak lagi menjadi topik utama yang dibicarakan.

Menjelang Kelulusan

“Kemana tujuanmu?” adalah kalimat yang menjadi percakapan anak-anak kelas XII saat ujian telah selesai dilaksanakan. Pertanyaan yang sama pula terlontar pada saya dan Aang. Pertanyaan yang sama-sama kami pertanyakan. Malang atau Mataram. Dua kota yang membuat saya bingung untuk kelanjutan studi saya. Tahukah kamu? Apa yang dikatakan oleh Aang? Dia dengan polosnya mengatakan bahwa kemana pun saya akan berangkat maka dia pun akan ikut bersama saya. Begitu pun yang dikatakan  oleh ibu kandungnya. Sejujurnya, Universitas Brawijaya di kota Malang adalah perguruan tinggi yang saya jadikan target. Berhubung di sana juga saya memeiliki seorang sepupu perempuan yang menuntut ilmu di sana pula. Hanya saja, kata-kata dari rata-rata keluarga besar itu selalu saja enak didengar dan terkesan sangat meyakinkan.  Maka Mataram menjadi prioritas saat itu, menjadi prioritas dikarenakan jarak yang tak sejauh Malang dari Taliwang dan juga menjadi tempat yang direkomendasikan oleh keluarga. Yah, sempat memutuskan untuk dapat hidup berbagi di Mataram karena rata-rata teman-teman yang lain akan menuju ke sana pula.

Siapa yang akan tahu aku kemana nantinya, lagipula tak ada yang salah dengan namanya berencana. Begitu pula Aang, dia juga tak melakukan kesalahan karena dia hanya berencana. Sejujurnya, hasil Ujian yang masih belum jelas membawa dampak negatif untuk ketahanan mental. “Pikirkan UMPTN”. Itu adalah kata dari guru favorit saya, Bapak Joko. Oh ya, di cerita-cerita sebelumnya, saya belum menceritakan tentang Bapak Joko. Beliau adalah guru Biologi saya, khususnya kelas XII jurusan IPA. Beliaulah yang menyemangati saya agar beban kelulusan tidak mengganggu hari-hari saya dan kesiapan saya untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Yah, saya lebih cenderung memfokuskan agar keragu-raguan itu tidak mengganggu hari-hari saya ketimbang persiapan masuk perguruan tinggi.

Jurusan di SMA? Aang? Saya juga sebelumnya belum menceritakan tentang Aang itu jurusan apa ya? Aang mengambil jurusan yang berbeda dengan saya. Dia mengambil Jurusan IPS. Dari awal jalan kami terkesan berbeda walau sifat kami cenderung sama. Soal kegalauannya Aang? Saya tak tahu pasti, hanya saja dia memiliki sifat yang sama seperti saya. Maka bisa dikatakan bahwa ia juga tak membuat hal ini mengganggu kehidupannya walau di otaknya ada besarnya kekhawatiran seperti yang saya rasakan. Itulah, kami hanya anak SMA yang sedang menunggu hasil 3 tahun yang ditentukan oleh 5 hari UAN. Adilkah menurut kalian? Tapi kehidupan kami benar-benar ditentukan oleh 5 hari yang hasilnya dilaporkan 1 atau 2 bulan kemudian.


Setelah Kelulusan

Di sini semua terjawab, aku lulus. Aang juga lulus. Rata-rata semua teman-teman bahagia karena kelulusannya. Meski ada 3 atau 4 orang yang tidak dinyatakan lulus saat itu juga. Sesungguhnya, ketidaklulusan di waktu saya dulu itu bukan menjadi halangan karena diadakannya yang namanya Ujian Ulang. Well. Semua teman- teman lulus pada akhirnya.

Tunggu, ini bukan mengenai kelulusan. Ini cerita saya dan Aang setelah lulus. Yah, siapa yang mengira bahwa tujuan saya akhirnya adalah kota Malang? Saya sendiri pun jujur saat itu tidak habis pikir. Sayangnya, kedua orang tua saya juga menyetujui dan beberapa dari sahabat saya juga menuju ke kota Malang. Aang? Oh ya, ada yang tidak mengenakan dari ekspresinya saat itu. Jelas saya dapat melihat sebuah kekecewaan yang disimpannya di balik senyuman yang ia berikan pada saya.

“Aku di Taliwang saja.” Itu adalah kata-kata Aang yang masih saya ingat. Alasannya? Saya juga bertanya tenntang alasannya waktu itu. Dia bilang bahwa orang tua asuhnya tak mengijinkannya tuk pergi jauh. Saya paham betapa ia sangat menghormati kedua orang tua asuhnya yang sudah mendidiknya dari semenjak ia masih kecil. Well, garis di wajah saya juga membentuk sebuah pertanda bahwa saya juga kecewa dan menyelipkan sebuah senyuman yang menunjukkan bahwa saya tahu dia memilih yang terbaik.

Hari Perpisahan di sekolah adalah hari yang mungkin dikatakan saya terkahir kali bertemu di sekolah saya saat itu. Yah, saatnya teman-teman akan berangkat ke tempat tujuannya masing-masing. Satu per satu kawan-kawan saya pergi menuju tempatnya. Hingga akhirnya tiba giliran saya, yah saya akhirnya akan berangkat.

“Hati-hati di sana.” Itu kata-katanya yang saya ingat. Aang memang adalah saudara sepupu yang seperti saudara perempuan saya sendiri. Bagaimana tidak? Kedekatan kami solah-olah menunjukkan bahwa kami ini adalah kakak-beradik yang sangat dekat. Yah, bulan mei tahun 2010 adalah saat keberangkatan saya ke kota Malang bersama Ibu saya yang mengantarkan. Saya pamit padanya hanya melalui sebuah pesan singkat:

Sampai Jumpa, Aku berangkat.

Jumat, 13 April 2012

Chapter 2 : Aku Lebih Muda Darimu


S Febby A (Aang) sekarang bukan lagi seorang dengan status yang dengan terpaksa saya kenali. Saat ini, dia memang harus saya kenali karena dia adalah sepupu saya yang telah lama tidak saya ketahui.

Saat kisah ini terjadi, saya berumur 16 tahun dan merupakan murid kelas X Sekolah menengah atas di tempat lahir saya. Sudah 2 tahun semenjak saya mengetahui bahwa dia itu adalah sepupu saya dan mengetahui bahwa sifat keras kepala yang dimilikinya sepadan dengan sifat yang saya punya. Yah, karena kami berdua sebetulnya masih bisa dibilang saudara

“Saudara itu sangat dekat”. Kata-kata itulah yang seolah terjadi pada saya dan Aang. Seperti kakak beradik yang sudah lama tidak berjumpa, kedekatan kami mengalir begitu saja. Apa sajakah yang kami lakukan? Tentunya bisa ditebak jikalau menyaksikan dua ekor kucing kecil yang sedang bermain bersama. Setidaknya tindakan kami bisa dibilang seperti dua bocah ingusan padahal usia kami berdua adalah dua orang remaja yang kini belajar di sekeloah menengah atas. Siapa yang akan berpikir kami akan memiliki sifat seperti itu mengingat usia kami seharusnya tindakan kami berdua bisa menjadi pemicu pemikiran aneh orang-orang disekitar kami. Well, kami berdua saudara, bisa bilang apa?


Usia

10 Februari 1992, tanggal lahir Aang yang sejujurnya sekarang samar-samar untuk saya ingat. Jelas kami yang sama-sama kelahiran tahun 1992 mempunyai sifat untuk pantang mengalah terhadap sesuatu yang menurut pemikiran kami benar. Sayangnya, setiap kemenangan selalu dapat saya dominasi. Dia dengan sadar mengakui sifat saya sebagai laki-laki yang cenderung berpikiran lebih dewasa ketimbang dia. Yah, seharusnya memang seperti itu karena bagaimanapun seorang laki-laki harus bisa menjadi contoh yang bijaksana. Hanya saja, tidak semua perdebatan bisa dengan mudah dimenangkan. Ingat, sifat keras kepala kami nyaris sama besar. Tunggu, seharusnya yang saya ceritakan adalah tentang usia, bukan perdebatan konyol yang sering kami lakukan.

Usia kami berbeda 4 bulan, bisa dikatakan bahwa Aang adalah kakak perempuan saya. Sifatnya, yang cenderung nyentrik dan konyol memang sangat lucu bila saya ingat. Hipotesis asal-asalan, kata-kata yang tanpa pikir panjang, sifat perhitungannya, dan juga keterusterangannya akan sesuatu yang tak disukainya siapa yang akan mudah melupakannya. Yah, dialah sepupuku. Sifatnya yang seperti itu kadang membuat orang-orang disekitarnya akan risih dan cenderung marah terhadapnya. Hanya saja kecuekan dan keceriaannya adalah hal istimewa yang bisa mebuatnya tetap santai menghadapi berbagai situasi yang tak enak disekitarnya.

Well, sekali lagi saya perjelas, ini adalah tentang usia. Dia jelas lebih tua dari saya yang kelahiran Bulan Juli di Kalender Masehi tahun 1992.

Berdebat

Abang Pi, itu panggilan adik dan adik-adik sepupu yang lain pada saya. Yah, dengan jumlah saudara kandung dari Ibu yang lumayan banyak jelas menunjukkan bahwa saya mempunyai adik-adik sepupu yang lumayan banyak pula. Hanya saja, semua keluarga memvonis saya sebagai Abang dari Aang pula. Memang dari segi sifat kami cenderung sama. Hanya ada sedikit perbedaan signifikan antara saya dan Aang. Saya cenderung realistis, kritis dan bisa dengan mudah berpendapat saat saya berpikir yang saya katakan adalah benar menurut definisi saya. Vonis sebagai “abang” dari saudara sepupu saya ini tentunya akan menjadi hal yang tak rancuh di mata keluarga. Jelas, ini bukan sesuatu yang masuk akal buat saya. Alhasil, Aang pun dengan senang hati dan ledekan khasnya mengatakan bahwa saya adalah kakak laki-lakinya.

Perdebatan tentang kakak ini bukanlah hal yang akan langsung terselesaikan di antara kami berdua. Hal ini tetap saja berlarut, mungkin sampai sekarang. Saat hal ini di bahas, maka perdebatannya tak akan tuntas sampai topik lain diangkat untuk dapat menggantinya. Itulah kami sifat kami berdua. Tak mudah mengalah, apa adanya, dan gak neko-neko kalo sedang berkumpul. Dia adalah sepupu perempuan saya yang istimewa karena kedekatan kami. Memang waktu untuk mengenalnya tak sebanyak waktu yang ada dibandingkan dengan mengenal keseleruhan keluarga saya selain dia. Hanya saja, Aang itu istimewa. Dialah yang dengan tulus memuji karya saya tentang puisi yang mungkin menurut ahli seni merupakan puisi murahan. Kemudian, Sayalah orang yang akan dengan senang hati mencetak setiap cerita pendek yang ia buat sendiri. Itulah kami, saling mendengar dan berkata apa adanya tanpa ada sesuatu yang mesti tertutupi.

Sayangnya perdebatan ini tak berhenti di sini. Sampai sekarang pun seharusnya masih berlanjut dan jelas tak akan ada yang akan mau mengalah. Hanya Kenyataan yang membuat saya merasa menang. Jelas bahwa yang akan kenyataan dan saya katakan adalah “aku lebih muda dari kamu” kepadanya.

Rabu, 11 April 2012

Chapter 1 : Gadis Itu Teman di SMP Ku


Dia adalah gadis yang seumuran dengan saya. Itu saat kelas VII sekolah menengah pertama saya pertama kali mengenalnya. Gadis yang biasa saja dan tidak terdapat hal yang istimewa dari pancaran auranya. Kenalpun harus gara-gara kegiatan pra-orientasi siswa karena saya dan dia adalah teman satu kelas dan perkenalannya terkesan sangat terpaksa.

Naik tingkat ke Kelas VIII kemudian IX. Tiga tahun masa sekolah yang terlewati dan saya hanya tau dia adalah siswi yang sama dengan siswi-siswi lainnya di sekolah itu. Yah, SMP Negeri 1 Taliwang tempat saya menjajaki ilmu pada masa-masa transisi anak-anak untuk menjadi remaja. Seperti masa-masa labil pada umumnya, setiap hal berlalu dan menjadi sesuatu yang lucu apabila diingat kembali sekarang. Tunggu, ini semua seharusnya tentang dia, bukan cerita saya.

Sebelumnya saya perkenalkan nama saya, Nama saya Olfi Prasyas dan sekarang berusia menjelang 20 tahun saat kisah ini saya tuliskan. Gadis itu? Oh ya, gadis yang saya ceritakan itu ternyata punya ikatan yang kuat dengan saya. Namanya adalah Sadia Febby Anggraini. Umurnya sekarang juga 20 tahun. Setahu saya sekarang, dia adalah gadis manis yang menyenangkan setelah saya ketahui siapa dia. Ngomong-ngomong, Cukup untuk perkenalan, saatnya saya bercerita.
******

Seorang Sepupu lagi?


Simpang siur mengenai seorang sepupu perempuan yang sebelumnya tidak pernah terdengar. Anehnya, saya tidak mengenalnya padahal saya begitu dekat dengan keluarga dari Ibu saya tercinta. Siapa dia? Tentunya saya yang masih berumur 13 menjelang 14 tahun (kelas VII) saat itu jelas bertanya-tanya tentang keberadaannya. Jelas sekali saya berniat ingin tahu siapa dia. Hanya saja, itu hanya keinginan sesaat dan saya melupakan keinginan saya itu keesokan harinya. Namanya juga anak-anak.


Hanya saja, itu ternyata tak berujung walau saya sudah sempat melupakannya. Kegiatan “pramuka” lah yang membuka jawaban. Siapa sangka, pertanyaan yang saya lupakan terjawab di sini. Saat saya duduk di kelas VIII dan mengikuti kegiatan ekstra ini, saya mendapat jawaban dari pembina pramuka saya yang saya hormati, Kang Dadang. Ternyata beliau lah yang memberitahukan bahwa di sekolah ini pula sepupu saya yang tidak saya ketahui identitasnya itu bersekolah. Aang namanya.


Aneh dan bingung tapi Kang Dadang menceritakan ke saya bahwa sepupu saya itu adalah anak dari adik ibu saya yang ternyata diangkat menjadi anak oleh keluarga lain. Jelas alasannya bagaimana kenyataannya saya tidak mengenalinya. Siapa yang menduga bahwa dari situ lah saya akhirnya tahu.
******

Sepupu saya Aang


Aang? Siapa dia? Menjadi permasalahan selanjutnya yang akhirnya harus saya cari tahu sendiri. Yah, seorang bocah ingusan berusia 15 tahun dan dengan rasa ingin tahu tentang sebuah hubungan keluarga yang tak terekspos sebelumnya. Namanya juga bocah, terkadang melupakan menjadi sebuah hal yang tak dapat dihindari keberadaannya.


Setelah beberapa hari dan dengan tidak sengaja lagi, akhirnya Febby saya temukan. Jelas, tanpa niat dan rasa ingin tahu sebelumnya. Hanya karena ketidaksengajaan yang sama kembali semua hal berulang. Di sekolah bukan Aang nama panggilannya, melainkan Febby. Siapa yang mengira bahwa dia adalah teman sekelas saya saat masih di kelas VII?


Akhirnya semua terjawab. Hanya karena ketidaksengajaan yang terjadi lagi dan semuanya jelas. Siapa yang mengira juga bahwa dia sudah mengetahui bahwa saya adalah sepupunya semenjak pertama kali bertemu, namun saya tidak tahu apa-apa. Akhirnya, saya mulai terbiasa dengan keberadaannya dan tak canggung lagi untuk mebawa namanya dalam pembicaraan saya. Saya memanggilnya Aang meski orang lain memanggilnya Febby. Itu cara saya membedakan diri saya dengan teman-teman yang ada disekitarnya. Selebihnya, sifat dan tingkah laku yang dia tunjukkan bisa seirama dengan saya. Kenyataannya, sebuah ikatan memang penuh dengan hal-hal aneh yang membuat saya sekarang berpikir lebih keras untuk memahaminya. Well, pada akhirnya siapa yang mengira bahwa Gadis itu adalah seorang teman Di Sekolah saya?

Senin, 09 April 2012

Surat 1 : Kamu, di Hati Saya

Sudah berbulan-bulan lamanya, lebih tepatnya 7 bulan setelah kepergianmu. Yah, sudah lama aku tak lagi mengirimkan pesan singkat walau hanya sekedar bercanda denganmu. Kini kau sudah tenang di sana, dan aku percaya kamu bahagia. Kadang mengingatmu mungkin memberikan sedikit perih yang tak bisa aku utarakan. Ada sakit, sedih, dan ketidakbiasaan untuk berbagi dengan orang lain seperti berbagi denganmu. Sudah 7 bulan dan aku masih saja tak percaya kamu sudah tiada.

10 Februari 1992, itu tanggal lahirmu. Lebih tua empat bulan daripada aku. Hanya saja, mereka menganggapmu sebagai adikku dan kau pun memaksakan dirimu untuk menjadi adikku. bukankah itu sebuah tindakan konyol yang selalu kita perdebatkan? Sayangnya, kau tak lagi berada disampingku walau sekedar untuk memukul kepalaku seperti biasanya. Aku tahu, kau lebih bahagia di sana.

Aku memang tak mengenalmu seperti orang lain yang begitu mengenalimu. Warna kesukaanmu saja aku lupa. Tapi aku tak pernah lupa senyumanmu karena itu adalah hal yang selalu kita bagikan saat kita masih bersama dulu. Tentunya senyumanmu sekarang pasti lebih Indah dan aku percaya itu. Sayangnya, rasa rindu untuk menemuimu selalu saja tak bisa terobati. Aku sangat rindu walau sekedar mengusilimu seperti kemarin-kemarin.

Sadia Febby Anggraini, siapa kamu? itu pertanyaan di otakku saat orang-orang bilang kau sepupuku dan aku tak tahu siapa kamu. 14 tahun kehidupanku di dunia dan aku tak sedikitpun mengenalimu. Padahal hubungan darah kita erat dan sifat yang sangat sama. Kenapa aku tak mengenalimu lebih dulu daripada mereka mengenalimu? Kenapa harus di waktu singkat? Kau tahu, aku kurang banyak menghabiskan waktu denganmu.

Sayangnya Tuhan kita begitu sayang padamu. Dia begitu mencintaimu sehingga kau dipeluk di sisi-Nya sekarang. Kau Disayangi oleh-Nya di sana sekarang dengan kasih sayang yang lebih dariku, dengan tebusan sebuah rasa sakit karena tak mampu lagi menatap matamu. Ingatlah Febby sayang, aku menyayangimu. Namun Tuhan kitaingin kau bahagia di sana bersama-Nya. Setidaknya, dari tulisan sederhanaku ini aku ingin menyampaikan perasaanku padamu. "Kamu, Masih di hati Saya"  ^_^

With Love
Your Cousin




Olfi Prasyas