Senin, 16 April 2012

Chapter 3 : Sampai Jumpa, Aku Berangkat


Ujian Akhir Nasional, siapa yang tak tahu kegiatan tiap tahun yang dilakukan pada bulan April. Yah, bagi semua anak kelas XII Sekolah Menengah Atas adalah hal yang paling menakutkan. Itulah yang saya dan Aang juga Alami saat bulan April 2010. Ingat, cerita ini adalah cerita antara kami, saya dan Aang, maka mungkin tak banyak teman-teman yang akan masuk dalam cerita ini. Namun, bukan berarti tak ada teman-teman yang berpengaruh dalam cerita ini.

Pola pendidikan Indonesia yang payah juga sangat berpengaruh di sini. Terutama bocoran soal, sayangnya tak akan saya ceritakan banyak. Ingat, ini soal cerita saya dan Aang dan untuk itu saya tak akan berbicara banyak tentang payahnya sistem pendidikan menurut saya. Sesungguhnya karena lucunya sistem, di sini Aang sempat bermasalah. Ia bermasalah karena diketahui membawa handphone saat ujian dilaksanakan. Yah, dia bermasalah saat itu. Itu menjadi tranding topic (andaikan di twitter) di sekolah saya. Untungnya, itu bukanlah hal yang akan menjadi masalah berlarut-larut setelahnya. Well, Ujian Nasional bisa dilalui dan selesai dalam satu minggu.

Masalah Handphone? Masalah itu ya? Well, akhirnya dapat ditutupi, bisa dijadikan catatan hitam yang disembunyikan sangat rapat. Hanya saja, masih teringat jelas bagaimana Aang dengan gayanya yang biasa, dengan rawut wajah khawatir yang seolah dicobanya untuk ditutup-tutupi. Sayangnya dapat terlihat sangat jelas karena saya mengenalnya cukup baik dan jujur saya puas memarahi dan mebuatnya berjanji tak akan semberono dan seceroboh waktu itu. Yah, sudah saya katakan bahwa ujian terlewati dengan baik dan maslah tak lagi menjadi topik utama yang dibicarakan.

Menjelang Kelulusan

“Kemana tujuanmu?” adalah kalimat yang menjadi percakapan anak-anak kelas XII saat ujian telah selesai dilaksanakan. Pertanyaan yang sama pula terlontar pada saya dan Aang. Pertanyaan yang sama-sama kami pertanyakan. Malang atau Mataram. Dua kota yang membuat saya bingung untuk kelanjutan studi saya. Tahukah kamu? Apa yang dikatakan oleh Aang? Dia dengan polosnya mengatakan bahwa kemana pun saya akan berangkat maka dia pun akan ikut bersama saya. Begitu pun yang dikatakan  oleh ibu kandungnya. Sejujurnya, Universitas Brawijaya di kota Malang adalah perguruan tinggi yang saya jadikan target. Berhubung di sana juga saya memeiliki seorang sepupu perempuan yang menuntut ilmu di sana pula. Hanya saja, kata-kata dari rata-rata keluarga besar itu selalu saja enak didengar dan terkesan sangat meyakinkan.  Maka Mataram menjadi prioritas saat itu, menjadi prioritas dikarenakan jarak yang tak sejauh Malang dari Taliwang dan juga menjadi tempat yang direkomendasikan oleh keluarga. Yah, sempat memutuskan untuk dapat hidup berbagi di Mataram karena rata-rata teman-teman yang lain akan menuju ke sana pula.

Siapa yang akan tahu aku kemana nantinya, lagipula tak ada yang salah dengan namanya berencana. Begitu pula Aang, dia juga tak melakukan kesalahan karena dia hanya berencana. Sejujurnya, hasil Ujian yang masih belum jelas membawa dampak negatif untuk ketahanan mental. “Pikirkan UMPTN”. Itu adalah kata dari guru favorit saya, Bapak Joko. Oh ya, di cerita-cerita sebelumnya, saya belum menceritakan tentang Bapak Joko. Beliau adalah guru Biologi saya, khususnya kelas XII jurusan IPA. Beliaulah yang menyemangati saya agar beban kelulusan tidak mengganggu hari-hari saya dan kesiapan saya untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Yah, saya lebih cenderung memfokuskan agar keragu-raguan itu tidak mengganggu hari-hari saya ketimbang persiapan masuk perguruan tinggi.

Jurusan di SMA? Aang? Saya juga sebelumnya belum menceritakan tentang Aang itu jurusan apa ya? Aang mengambil jurusan yang berbeda dengan saya. Dia mengambil Jurusan IPS. Dari awal jalan kami terkesan berbeda walau sifat kami cenderung sama. Soal kegalauannya Aang? Saya tak tahu pasti, hanya saja dia memiliki sifat yang sama seperti saya. Maka bisa dikatakan bahwa ia juga tak membuat hal ini mengganggu kehidupannya walau di otaknya ada besarnya kekhawatiran seperti yang saya rasakan. Itulah, kami hanya anak SMA yang sedang menunggu hasil 3 tahun yang ditentukan oleh 5 hari UAN. Adilkah menurut kalian? Tapi kehidupan kami benar-benar ditentukan oleh 5 hari yang hasilnya dilaporkan 1 atau 2 bulan kemudian.


Setelah Kelulusan

Di sini semua terjawab, aku lulus. Aang juga lulus. Rata-rata semua teman-teman bahagia karena kelulusannya. Meski ada 3 atau 4 orang yang tidak dinyatakan lulus saat itu juga. Sesungguhnya, ketidaklulusan di waktu saya dulu itu bukan menjadi halangan karena diadakannya yang namanya Ujian Ulang. Well. Semua teman- teman lulus pada akhirnya.

Tunggu, ini bukan mengenai kelulusan. Ini cerita saya dan Aang setelah lulus. Yah, siapa yang mengira bahwa tujuan saya akhirnya adalah kota Malang? Saya sendiri pun jujur saat itu tidak habis pikir. Sayangnya, kedua orang tua saya juga menyetujui dan beberapa dari sahabat saya juga menuju ke kota Malang. Aang? Oh ya, ada yang tidak mengenakan dari ekspresinya saat itu. Jelas saya dapat melihat sebuah kekecewaan yang disimpannya di balik senyuman yang ia berikan pada saya.

“Aku di Taliwang saja.” Itu adalah kata-kata Aang yang masih saya ingat. Alasannya? Saya juga bertanya tenntang alasannya waktu itu. Dia bilang bahwa orang tua asuhnya tak mengijinkannya tuk pergi jauh. Saya paham betapa ia sangat menghormati kedua orang tua asuhnya yang sudah mendidiknya dari semenjak ia masih kecil. Well, garis di wajah saya juga membentuk sebuah pertanda bahwa saya juga kecewa dan menyelipkan sebuah senyuman yang menunjukkan bahwa saya tahu dia memilih yang terbaik.

Hari Perpisahan di sekolah adalah hari yang mungkin dikatakan saya terkahir kali bertemu di sekolah saya saat itu. Yah, saatnya teman-teman akan berangkat ke tempat tujuannya masing-masing. Satu per satu kawan-kawan saya pergi menuju tempatnya. Hingga akhirnya tiba giliran saya, yah saya akhirnya akan berangkat.

“Hati-hati di sana.” Itu kata-katanya yang saya ingat. Aang memang adalah saudara sepupu yang seperti saudara perempuan saya sendiri. Bagaimana tidak? Kedekatan kami solah-olah menunjukkan bahwa kami ini adalah kakak-beradik yang sangat dekat. Yah, bulan mei tahun 2010 adalah saat keberangkatan saya ke kota Malang bersama Ibu saya yang mengantarkan. Saya pamit padanya hanya melalui sebuah pesan singkat:

Sampai Jumpa, Aku berangkat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar