Minggu, 22 April 2012

Surat 3 : Kau Mendengar, tak terdengar berbicara


 Hei, kamu yang di sana. Aku tak akan mempertanyakan kabarmu. Aku paham bahwa kau akan lebih cantik di sana. Bukan, bukan cantik mungkin, kau pasti Indah jika itu penilaian yang lebih baik daripada cantik. Aku bisa membayangkan senyummu seperti kemarin-kemarin sekarang, meski aku ketahui bahwa senyummu akan sangat mempesona sekarang. Semoga Tuhan kita selalu menyayangimu sayang.

Apakah kau berada di sebelahku saat aku mulai menulis surat ini? Meski iya, aku tak nampak bisa untuk dapat melihatmu. Hanya setiap aku akan menulis untuk sesuatu yang akan aku sampaikan padamu, ada kehangatan di dadaku dan sekitar hatiku. Mungkin kau kini tengah merangkul dan mencubitku meski aku tak merasakan. Oke, sejujurnya bukan aku tak merasakan sebenarnya, aku benar-benar tak tahu. Semoga Tuhan kita selalu menyayangimu sayang.

Aku yakin kau apat melihat saat aku menulis seperti ini dan kamu akan paham bukan? Kamu akan paham kenapa aku menulis bukan? Aku percaya akan hal itu. Yah, aku sangat-sangat percaya. Kau tahu bukan apa yang sedang aku rasakan? Yah, aku masih tak punya teman bercerita sehebat kamu. Pada akhirnya, aku hanya menulis sebuah surat yang tak terkirim lagi untukmu. Semoga Tuhan kita selalu menyayangimu sayang.

Kau dapat mendengar bagaimana aku tadi meledak-ledak sementara waktuku tadi bukan? Yah, ada yang salah dan tak bisa aku utarakan. Sesungguhnya aku tau kau mendengar dan kau mengerti. Kamu jelas akan mengerti karena kurasa kau melihat dengan jelas. Itu menurutku dan jelas hanya menurutku. Semoga Tuhan kita selalu menyayangimu sayang.

Aku masih belum merasa adil untuk waktu singkat bersamamu. Aku masih tak dapat menerima bahwa waktuku lebih singkat dari orang-orang yang terlebihdahulu mengenalmu. Aku sangat membutuhkanmu saat ini.

.........
Sempat ada jedah untuk shalatku tadi, aku merasa lebih baik. Setidaknya aku tak memaksakan untuk keberadaanmu lagi sekarang. Aku dapat lebih menerima untuk mengikhlaskanmu kembali. Maaf sempat mengaharapkanmu muncul disampingku tadi. Semoga Tuhan kita selalu menyayangimu sayang.

Kau sudah kenal siapa aku bukan, meski dalam waktu yang singkat untuk kita? Kau mengetahuiku kan? Setidaknya kau tahu aku sangat terbuka terhadapmu daripada orang lain disekelilingmu. Semoga Tuhan kita selalu menyayangimu sayang.

Setidaknya menulis untukmu membuat aku merasa lebih baik. Entah kenapa, aku merasa nyaman. Terima kasih Tuhan untuk sebuah karunia orang sepertinya yang bisa membuatku merasa lebih baik saat akan bercerita terhadapnya, meski ia tak lagi ada untuk dapat aku sentuh dan aku godai. Terima kasih Tuhan untuk kebesaran hati seperti ini. Terima Kasih Tuhan, setidaknya aku percaya kau memberikan semua hal terbaik untuknya di sana.

KuPercaya Sayang, kau selalu memperhatikanku. Kau mendengarku, meski kau tak lagi terdengar berbicara. Istirahatlah dengan tenang. Demikianlah suratku hari ini untuku. Maaf, jikalau aku sempat mebuatmu khawatir saat ini. Semoga Tuhan kita selalu menyayangimu di sana sepupuku sayang.

Salam Hangat dengan Doa Untuk Ketenanganmu.
Sepupumu
OP’
Olfi Prasyas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar