Hei,
kamu yang di sana. Aku tak akan mempertanyakan kabarmu. Aku paham bahwa kau
akan lebih cantik di sana. Bukan, bukan cantik mungkin, kau pasti Indah jika
itu penilaian yang lebih baik daripada cantik. Aku bisa membayangkan senyummu
seperti kemarin-kemarin sekarang, meski aku ketahui bahwa senyummu akan sangat
mempesona sekarang. Semoga Tuhan kita selalu menyayangimu sayang.
Apakah
kau berada di sebelahku saat aku mulai menulis surat ini? Meski iya, aku tak
nampak bisa untuk dapat melihatmu. Hanya setiap aku akan menulis untuk sesuatu
yang akan aku sampaikan padamu, ada kehangatan di dadaku dan sekitar hatiku.
Mungkin kau kini tengah merangkul dan mencubitku meski aku tak merasakan. Oke,
sejujurnya bukan aku tak merasakan sebenarnya, aku benar-benar tak tahu. Semoga
Tuhan kita selalu menyayangimu sayang.
Aku
yakin kau apat melihat saat aku menulis seperti ini dan kamu akan paham bukan?
Kamu akan paham kenapa aku menulis bukan? Aku percaya akan hal itu. Yah, aku
sangat-sangat percaya. Kau tahu bukan apa yang sedang aku rasakan? Yah, aku
masih tak punya teman bercerita sehebat kamu. Pada akhirnya, aku hanya menulis
sebuah surat yang tak terkirim lagi untukmu. Semoga Tuhan kita selalu
menyayangimu sayang.
Kau
dapat mendengar bagaimana aku tadi meledak-ledak sementara waktuku tadi bukan? Yah,
ada yang salah dan tak bisa aku utarakan. Sesungguhnya aku tau kau mendengar
dan kau mengerti. Kamu jelas akan mengerti karena kurasa kau melihat dengan
jelas. Itu menurutku dan jelas hanya menurutku. Semoga Tuhan kita selalu
menyayangimu sayang.
Aku
masih belum merasa adil untuk waktu singkat bersamamu. Aku masih tak dapat
menerima bahwa waktuku lebih singkat dari orang-orang yang terlebihdahulu mengenalmu.
Aku sangat membutuhkanmu saat ini.
.........
Sempat
ada jedah untuk shalatku tadi, aku merasa lebih baik. Setidaknya aku tak
memaksakan untuk keberadaanmu lagi sekarang. Aku dapat lebih menerima untuk
mengikhlaskanmu kembali. Maaf sempat mengaharapkanmu muncul disampingku tadi. Semoga
Tuhan kita selalu menyayangimu sayang.
Kau
sudah kenal siapa aku bukan, meski dalam waktu yang singkat untuk kita? Kau mengetahuiku
kan? Setidaknya kau tahu aku sangat terbuka terhadapmu daripada orang lain
disekelilingmu. Semoga Tuhan kita selalu menyayangimu sayang.
Setidaknya
menulis untukmu membuat aku merasa lebih baik. Entah kenapa, aku merasa nyaman.
Terima kasih Tuhan untuk sebuah karunia orang sepertinya yang bisa membuatku
merasa lebih baik saat akan bercerita terhadapnya, meski ia tak lagi ada untuk
dapat aku sentuh dan aku godai. Terima kasih Tuhan untuk kebesaran hati seperti
ini. Terima Kasih Tuhan, setidaknya aku percaya kau memberikan semua hal
terbaik untuknya di sana.
KuPercaya
Sayang, kau selalu memperhatikanku. Kau mendengarku, meski kau tak lagi
terdengar berbicara. Istirahatlah dengan tenang. Demikianlah suratku hari ini
untuku. Maaf, jikalau aku sempat mebuatmu khawatir saat ini. Semoga Tuhan kita
selalu menyayangimu di sana sepupuku sayang.
Salam
Hangat dengan Doa Untuk Ketenanganmu.
Sepupumu
OP’
Olfi
Prasyas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar