Jumat, 13 April 2012

Chapter 2 : Aku Lebih Muda Darimu


S Febby A (Aang) sekarang bukan lagi seorang dengan status yang dengan terpaksa saya kenali. Saat ini, dia memang harus saya kenali karena dia adalah sepupu saya yang telah lama tidak saya ketahui.

Saat kisah ini terjadi, saya berumur 16 tahun dan merupakan murid kelas X Sekolah menengah atas di tempat lahir saya. Sudah 2 tahun semenjak saya mengetahui bahwa dia itu adalah sepupu saya dan mengetahui bahwa sifat keras kepala yang dimilikinya sepadan dengan sifat yang saya punya. Yah, karena kami berdua sebetulnya masih bisa dibilang saudara

“Saudara itu sangat dekat”. Kata-kata itulah yang seolah terjadi pada saya dan Aang. Seperti kakak beradik yang sudah lama tidak berjumpa, kedekatan kami mengalir begitu saja. Apa sajakah yang kami lakukan? Tentunya bisa ditebak jikalau menyaksikan dua ekor kucing kecil yang sedang bermain bersama. Setidaknya tindakan kami bisa dibilang seperti dua bocah ingusan padahal usia kami berdua adalah dua orang remaja yang kini belajar di sekeloah menengah atas. Siapa yang akan berpikir kami akan memiliki sifat seperti itu mengingat usia kami seharusnya tindakan kami berdua bisa menjadi pemicu pemikiran aneh orang-orang disekitar kami. Well, kami berdua saudara, bisa bilang apa?


Usia

10 Februari 1992, tanggal lahir Aang yang sejujurnya sekarang samar-samar untuk saya ingat. Jelas kami yang sama-sama kelahiran tahun 1992 mempunyai sifat untuk pantang mengalah terhadap sesuatu yang menurut pemikiran kami benar. Sayangnya, setiap kemenangan selalu dapat saya dominasi. Dia dengan sadar mengakui sifat saya sebagai laki-laki yang cenderung berpikiran lebih dewasa ketimbang dia. Yah, seharusnya memang seperti itu karena bagaimanapun seorang laki-laki harus bisa menjadi contoh yang bijaksana. Hanya saja, tidak semua perdebatan bisa dengan mudah dimenangkan. Ingat, sifat keras kepala kami nyaris sama besar. Tunggu, seharusnya yang saya ceritakan adalah tentang usia, bukan perdebatan konyol yang sering kami lakukan.

Usia kami berbeda 4 bulan, bisa dikatakan bahwa Aang adalah kakak perempuan saya. Sifatnya, yang cenderung nyentrik dan konyol memang sangat lucu bila saya ingat. Hipotesis asal-asalan, kata-kata yang tanpa pikir panjang, sifat perhitungannya, dan juga keterusterangannya akan sesuatu yang tak disukainya siapa yang akan mudah melupakannya. Yah, dialah sepupuku. Sifatnya yang seperti itu kadang membuat orang-orang disekitarnya akan risih dan cenderung marah terhadapnya. Hanya saja kecuekan dan keceriaannya adalah hal istimewa yang bisa mebuatnya tetap santai menghadapi berbagai situasi yang tak enak disekitarnya.

Well, sekali lagi saya perjelas, ini adalah tentang usia. Dia jelas lebih tua dari saya yang kelahiran Bulan Juli di Kalender Masehi tahun 1992.

Berdebat

Abang Pi, itu panggilan adik dan adik-adik sepupu yang lain pada saya. Yah, dengan jumlah saudara kandung dari Ibu yang lumayan banyak jelas menunjukkan bahwa saya mempunyai adik-adik sepupu yang lumayan banyak pula. Hanya saja, semua keluarga memvonis saya sebagai Abang dari Aang pula. Memang dari segi sifat kami cenderung sama. Hanya ada sedikit perbedaan signifikan antara saya dan Aang. Saya cenderung realistis, kritis dan bisa dengan mudah berpendapat saat saya berpikir yang saya katakan adalah benar menurut definisi saya. Vonis sebagai “abang” dari saudara sepupu saya ini tentunya akan menjadi hal yang tak rancuh di mata keluarga. Jelas, ini bukan sesuatu yang masuk akal buat saya. Alhasil, Aang pun dengan senang hati dan ledekan khasnya mengatakan bahwa saya adalah kakak laki-lakinya.

Perdebatan tentang kakak ini bukanlah hal yang akan langsung terselesaikan di antara kami berdua. Hal ini tetap saja berlarut, mungkin sampai sekarang. Saat hal ini di bahas, maka perdebatannya tak akan tuntas sampai topik lain diangkat untuk dapat menggantinya. Itulah kami sifat kami berdua. Tak mudah mengalah, apa adanya, dan gak neko-neko kalo sedang berkumpul. Dia adalah sepupu perempuan saya yang istimewa karena kedekatan kami. Memang waktu untuk mengenalnya tak sebanyak waktu yang ada dibandingkan dengan mengenal keseleruhan keluarga saya selain dia. Hanya saja, Aang itu istimewa. Dialah yang dengan tulus memuji karya saya tentang puisi yang mungkin menurut ahli seni merupakan puisi murahan. Kemudian, Sayalah orang yang akan dengan senang hati mencetak setiap cerita pendek yang ia buat sendiri. Itulah kami, saling mendengar dan berkata apa adanya tanpa ada sesuatu yang mesti tertutupi.

Sayangnya perdebatan ini tak berhenti di sini. Sampai sekarang pun seharusnya masih berlanjut dan jelas tak akan ada yang akan mau mengalah. Hanya Kenyataan yang membuat saya merasa menang. Jelas bahwa yang akan kenyataan dan saya katakan adalah “aku lebih muda dari kamu” kepadanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar