S Febby A (Aang)
sekarang bukan lagi seorang dengan status yang dengan terpaksa saya kenali.
Saat ini, dia memang harus saya kenali karena dia adalah sepupu saya yang telah
lama tidak saya ketahui.
Saat kisah ini
terjadi, saya berumur 16 tahun dan merupakan murid kelas X Sekolah menengah atas
di tempat lahir saya. Sudah 2 tahun semenjak saya mengetahui bahwa dia itu
adalah sepupu saya dan mengetahui bahwa sifat keras kepala yang dimilikinya
sepadan dengan sifat yang saya punya. Yah, karena kami berdua sebetulnya masih
bisa dibilang saudara
“Saudara
itu sangat dekat”. Kata-kata itulah yang seolah terjadi pada saya dan Aang.
Seperti kakak beradik yang sudah lama tidak berjumpa, kedekatan kami mengalir
begitu saja. Apa sajakah yang kami lakukan? Tentunya bisa ditebak jikalau
menyaksikan dua ekor kucing kecil yang sedang bermain bersama. Setidaknya
tindakan kami bisa dibilang seperti dua bocah ingusan padahal usia kami berdua
adalah dua orang remaja yang kini belajar di sekeloah menengah atas. Siapa yang
akan berpikir kami akan memiliki sifat seperti itu mengingat usia kami
seharusnya tindakan kami berdua bisa menjadi pemicu pemikiran aneh orang-orang
disekitar kami. Well, kami berdua saudara, bisa bilang apa?
Usia
10 Februari
1992, tanggal lahir Aang yang sejujurnya sekarang samar-samar untuk saya ingat.
Jelas kami yang sama-sama kelahiran tahun 1992 mempunyai sifat untuk pantang
mengalah terhadap sesuatu yang menurut pemikiran kami benar. Sayangnya, setiap
kemenangan selalu dapat saya dominasi. Dia dengan sadar mengakui sifat saya
sebagai laki-laki yang cenderung berpikiran lebih dewasa ketimbang dia. Yah,
seharusnya memang seperti itu karena bagaimanapun seorang laki-laki harus bisa
menjadi contoh yang bijaksana. Hanya saja, tidak semua perdebatan bisa dengan
mudah dimenangkan. Ingat, sifat keras kepala kami nyaris sama besar. Tunggu,
seharusnya yang saya ceritakan adalah tentang usia, bukan perdebatan konyol
yang sering kami lakukan.
Usia kami
berbeda 4 bulan, bisa dikatakan bahwa Aang adalah kakak perempuan saya.
Sifatnya, yang cenderung nyentrik dan konyol memang sangat lucu bila saya
ingat. Hipotesis asal-asalan, kata-kata yang tanpa pikir panjang, sifat
perhitungannya, dan juga keterusterangannya akan sesuatu yang tak disukainya siapa
yang akan mudah melupakannya. Yah, dialah sepupuku. Sifatnya yang seperti itu
kadang membuat orang-orang disekitarnya akan risih dan cenderung marah
terhadapnya. Hanya saja kecuekan dan keceriaannya adalah hal istimewa yang bisa
mebuatnya tetap santai menghadapi berbagai situasi yang tak enak disekitarnya.
Well,
sekali lagi saya perjelas, ini adalah tentang usia. Dia jelas lebih tua dari
saya yang kelahiran Bulan Juli di Kalender Masehi tahun 1992.
Berdebat
Abang Pi, itu
panggilan adik dan adik-adik sepupu yang lain pada saya. Yah, dengan jumlah
saudara kandung dari Ibu yang lumayan banyak jelas menunjukkan bahwa saya
mempunyai adik-adik sepupu yang lumayan banyak pula. Hanya saja, semua keluarga
memvonis saya sebagai Abang dari Aang pula. Memang dari segi sifat kami
cenderung sama. Hanya ada sedikit perbedaan signifikan antara saya dan Aang.
Saya cenderung realistis, kritis dan bisa dengan mudah berpendapat saat saya
berpikir yang saya katakan adalah benar menurut definisi saya. Vonis sebagai
“abang” dari saudara sepupu saya ini tentunya akan menjadi hal yang tak rancuh
di mata keluarga. Jelas, ini bukan sesuatu yang masuk akal buat saya. Alhasil,
Aang pun dengan senang hati dan ledekan khasnya mengatakan bahwa saya adalah
kakak laki-lakinya.
Perdebatan
tentang kakak ini bukanlah hal yang akan langsung terselesaikan di antara kami
berdua. Hal ini tetap saja berlarut, mungkin sampai sekarang. Saat hal ini di
bahas, maka perdebatannya tak akan tuntas sampai topik lain diangkat untuk
dapat menggantinya. Itulah kami sifat kami berdua. Tak mudah mengalah, apa
adanya, dan gak neko-neko kalo sedang berkumpul. Dia adalah sepupu perempuan
saya yang istimewa karena kedekatan kami. Memang waktu untuk mengenalnya tak
sebanyak waktu yang ada dibandingkan dengan mengenal keseleruhan keluarga saya
selain dia. Hanya saja, Aang itu istimewa. Dialah yang dengan tulus memuji
karya saya tentang puisi yang mungkin menurut ahli seni merupakan puisi
murahan. Kemudian, Sayalah orang yang akan dengan senang hati mencetak setiap
cerita pendek yang ia buat sendiri. Itulah kami, saling mendengar dan berkata
apa adanya tanpa ada sesuatu yang mesti tertutupi.
Sayangnya
perdebatan ini tak berhenti di sini. Sampai sekarang pun seharusnya masih
berlanjut dan jelas tak akan ada yang akan mau mengalah. Hanya Kenyataan yang
membuat saya merasa menang. Jelas bahwa yang akan kenyataan dan saya katakan
adalah “aku lebih muda dari kamu” kepadanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar