Ujian Akhir
Nasional, siapa yang tak tahu kegiatan tiap tahun yang dilakukan pada bulan
April. Yah, bagi semua anak kelas XII Sekolah Menengah Atas adalah hal yang
paling menakutkan. Itulah yang saya dan Aang juga Alami saat bulan April 2010.
Ingat, cerita ini adalah cerita antara kami, saya dan Aang, maka mungkin tak
banyak teman-teman yang akan masuk dalam cerita ini. Namun, bukan berarti tak
ada teman-teman yang berpengaruh dalam cerita ini.
Pola pendidikan
Indonesia yang payah juga sangat berpengaruh di sini. Terutama bocoran soal,
sayangnya tak akan saya ceritakan banyak. Ingat, ini soal cerita saya dan Aang
dan untuk itu saya tak akan berbicara banyak tentang payahnya sistem pendidikan
menurut saya. Sesungguhnya karena lucunya sistem, di sini Aang sempat
bermasalah. Ia bermasalah karena diketahui membawa handphone saat ujian
dilaksanakan. Yah, dia bermasalah saat itu. Itu menjadi tranding topic
(andaikan di twitter) di sekolah saya. Untungnya, itu bukanlah hal yang akan
menjadi masalah berlarut-larut setelahnya. Well, Ujian Nasional bisa dilalui
dan selesai dalam satu minggu.
Masalah
Handphone? Masalah itu ya? Well, akhirnya dapat ditutupi, bisa dijadikan
catatan hitam yang disembunyikan sangat rapat. Hanya saja, masih teringat jelas
bagaimana Aang dengan gayanya yang biasa, dengan rawut wajah khawatir yang
seolah dicobanya untuk ditutup-tutupi. Sayangnya dapat terlihat sangat jelas
karena saya mengenalnya cukup baik dan jujur saya puas memarahi dan mebuatnya
berjanji tak akan semberono dan seceroboh waktu itu. Yah, sudah saya katakan
bahwa ujian terlewati dengan baik dan maslah tak lagi menjadi topik utama yang
dibicarakan.
Menjelang
Kelulusan
“Kemana
tujuanmu?” adalah kalimat yang menjadi percakapan anak-anak kelas XII saat
ujian telah selesai dilaksanakan. Pertanyaan yang sama pula terlontar pada saya
dan Aang. Pertanyaan yang sama-sama kami pertanyakan. Malang atau Mataram. Dua
kota yang membuat saya bingung untuk kelanjutan studi saya. Tahukah kamu? Apa
yang dikatakan oleh Aang? Dia dengan polosnya mengatakan bahwa kemana pun saya
akan berangkat maka dia pun akan ikut bersama saya. Begitu pun yang
dikatakan oleh ibu kandungnya.
Sejujurnya, Universitas Brawijaya di kota Malang adalah perguruan tinggi yang
saya jadikan target. Berhubung di sana juga saya memeiliki seorang sepupu
perempuan yang menuntut ilmu di sana pula. Hanya saja, kata-kata dari rata-rata
keluarga besar itu selalu saja enak didengar dan terkesan sangat meyakinkan. Maka Mataram menjadi prioritas saat itu,
menjadi prioritas dikarenakan jarak yang tak sejauh Malang dari Taliwang dan
juga menjadi tempat yang direkomendasikan oleh keluarga. Yah, sempat memutuskan
untuk dapat hidup berbagi di Mataram karena rata-rata teman-teman yang lain
akan menuju ke sana pula.
Siapa yang akan
tahu aku kemana nantinya, lagipula tak ada yang salah dengan namanya berencana.
Begitu pula Aang, dia juga tak melakukan kesalahan karena dia hanya berencana.
Sejujurnya, hasil Ujian yang masih belum jelas membawa dampak negatif untuk ketahanan
mental. “Pikirkan UMPTN”. Itu adalah kata dari guru favorit saya, Bapak Joko.
Oh ya, di cerita-cerita sebelumnya, saya belum menceritakan tentang Bapak Joko.
Beliau adalah guru Biologi saya, khususnya kelas XII jurusan IPA. Beliaulah
yang menyemangati saya agar beban kelulusan tidak mengganggu hari-hari saya dan
kesiapan saya untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Yah, saya lebih cenderung
memfokuskan agar keragu-raguan itu tidak mengganggu hari-hari saya ketimbang
persiapan masuk perguruan tinggi.
Jurusan
di SMA? Aang? Saya juga sebelumnya belum menceritakan tentang Aang itu jurusan
apa ya? Aang mengambil jurusan yang berbeda dengan saya. Dia mengambil Jurusan
IPS. Dari awal jalan kami terkesan berbeda walau sifat kami cenderung sama.
Soal kegalauannya Aang? Saya tak tahu pasti, hanya saja dia memiliki sifat yang
sama seperti saya. Maka bisa dikatakan bahwa ia juga tak membuat hal ini
mengganggu kehidupannya walau di otaknya ada besarnya kekhawatiran seperti yang
saya rasakan. Itulah, kami hanya anak SMA yang sedang menunggu hasil 3 tahun
yang ditentukan oleh 5 hari UAN. Adilkah menurut kalian? Tapi kehidupan kami
benar-benar ditentukan oleh 5 hari yang hasilnya dilaporkan 1 atau 2 bulan
kemudian.
Setelah
Kelulusan
Di sini semua
terjawab, aku lulus. Aang juga lulus. Rata-rata semua teman-teman bahagia
karena kelulusannya. Meski ada 3 atau 4 orang yang tidak dinyatakan lulus saat
itu juga. Sesungguhnya, ketidaklulusan di waktu saya dulu itu bukan menjadi
halangan karena diadakannya yang namanya Ujian Ulang. Well. Semua teman- teman
lulus pada akhirnya.
Tunggu, ini
bukan mengenai kelulusan. Ini cerita saya dan Aang setelah lulus. Yah, siapa
yang mengira bahwa tujuan saya akhirnya adalah kota Malang? Saya sendiri pun
jujur saat itu tidak habis pikir. Sayangnya, kedua orang tua saya juga
menyetujui dan beberapa dari sahabat saya juga menuju ke kota Malang. Aang? Oh ya,
ada yang tidak mengenakan dari ekspresinya saat itu. Jelas saya dapat melihat
sebuah kekecewaan yang disimpannya di balik senyuman yang ia berikan pada saya.
“Aku di Taliwang
saja.” Itu adalah kata-kata Aang yang masih saya ingat. Alasannya? Saya juga
bertanya tenntang alasannya waktu itu. Dia bilang bahwa orang tua asuhnya tak
mengijinkannya tuk pergi jauh. Saya paham betapa ia sangat menghormati kedua
orang tua asuhnya yang sudah mendidiknya dari semenjak ia masih kecil. Well,
garis di wajah saya juga membentuk sebuah pertanda bahwa saya juga kecewa dan
menyelipkan sebuah senyuman yang menunjukkan bahwa saya tahu dia memilih yang
terbaik.
Hari Perpisahan
di sekolah adalah hari yang mungkin dikatakan saya terkahir kali bertemu di
sekolah saya saat itu. Yah, saatnya teman-teman akan berangkat ke tempat tujuannya
masing-masing. Satu per satu kawan-kawan saya pergi menuju tempatnya. Hingga akhirnya
tiba giliran saya, yah saya akhirnya akan berangkat.
“Hati-hati di
sana.” Itu kata-katanya yang saya ingat. Aang memang adalah saudara sepupu yang
seperti saudara perempuan saya sendiri. Bagaimana tidak? Kedekatan kami
solah-olah menunjukkan bahwa kami ini adalah kakak-beradik yang sangat dekat. Yah,
bulan mei tahun 2010 adalah saat keberangkatan saya ke kota Malang bersama Ibu
saya yang mengantarkan. Saya pamit padanya hanya melalui sebuah pesan singkat:
Sampai
Jumpa, Aku berangkat.